KaMedia – Kabut pagi masih menggantung di punggung pegunungan Ijen ketika uap panas bumi menari perlahan di udara. Di lokasi yang sama, berdiri kokoh Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen, simbol baru masa depan energi bersih Jawa Timur yang dimulai dari kedalaman bumi.
PLTP Ijen bukan sekadar infrastruktur energi. Ia adalah bukti bahwa kekayaan alam, bila dikelola dengan tepat, dapat menjawab dua tantangan sekaligus: kebutuhan listrik yang terus meningkat dan komitmen terhadap energi ramah lingkungan. PLTP Ijen merupakan pembangkit panas bumi pertama di Provinsi Jawa Timur dan telah memasuki fase operasi komersial sejak 7 Februari 2025, dengan kapasitas awal sekitar 35 megawatt (MW) yang terpasang dan telah terhubung ke jaringan listrik Jawa melalui Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik jangka panjang selama 30 tahun.
Dengan kapasitas awalnya, listrik dari PLTP Ijen mampu menyediakan pasokan listrik bagi sekitar 85.000 rumah tangga di Jawa–Bali, sekaligus memperkuat stabilitas sistem kelistrikan.
Namun, itu baru permulaan. Potensi PLTP Ijen jauh lebih besar. Secara bertahap, proyek ini direncanakan untuk mencapai total kapasitas hingga 110 MW melalui beberapa fase pengembangan. Tahap pertama (Unit 1) menghasilkan sekitar 35 MW; tahap kedua direncanakan menambah sekitar 45 MW, dilanjutkan dengan tahap ketiga sekitar 25 MW, sehingga totalnya mencapai sekitar 110 MW.
Bagi General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, PLTP Ijen merupakan contoh nyata bagaimana energi bersih bisa menjadi fondasi masa depan kelistrikan yang andal dan berkelanjutan.
“PLTP Ijen adalah langkah strategis untuk memperkuat bauran energi bersih di Jawa Timur. Panas bumi tidak hanya memberikan listrik yang stabil, tetapi juga membuka peluang energi terbarukan yang lebih besar bagi masyarakat dan industri,” ujar Ahmad Mustaqir, Kamis ( 15/1/2026 ).
Menurut Ahmad, integrasi kapasitas pembangkit panas bumi seperti PLTP Ijen ke dalam sistem kelistrikan sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus memberi ruang bagi EBT lainnya untuk tumbuh di masa depan.
“Energi terbarukan seperti panas bumi adalah bagian dari strategi jangka panjang. Tidak hanya soal kapasitas saat ini, tetapi tentang memastikan pasokan listrik andal yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Proyek PLTP Ijen juga menjadi contoh bagaimana teknologi canggih dapat digunakan untuk memaksimalkan potensi alam tanpa merusaknya. PLTP ini menggunakan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan untuk mengubah panas bumi menjadi listrik, sementara sisa uap dan cairan panas bumi diolah kembali ke dalam bumi, menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus meminimalkan dampak ekologis.
Selain menghasilkan listrik bersih, PLTP Ijen juga berdampak positif secara sosial dan ekonomi. Pembangunan dan operasionalnya menyerap tenaga kerja lokal, membuka kesempatan keterlibatan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitar wilayah proyek.
Keberadaan PLTP ini juga membantu mengurangi emisi karbon secara signifikan dengan memanfaatkan sumber energi yang hampir tidak menghasilkan polusi. Ini sejalan dengan tujuan nasional dan global untuk menurunkan emisi karbon di era transisi energi.
Dalam konteks kebutuhan energi nasional, PLTP Ijen menjadi bagian dari pergeseran paradigma dari sumber energi yang bersifat habis pakai dan berdampak lingkungan, menuju energi ramah lingkungan yang berasal dari kekuatan alam itu sendiri.
PLTP Ijen bukan sekadar proyek listrik. Ia adalah gambaran masa depan, ketika bumi yang tersisa panasnya ratusan ribu tahun lamanya diolah menjadi daya yang menyalakan rumah-rumah, sekolah, dan pabrik; ketika teknologi berpadu dengan tanggung jawab lingkungan dan ketika Indonesia bergerak nyata menuju energi bersih dan berkelanjutan.











