KaMedia – Di lereng pegunungan dan lembah di Jawa Timur, aliran sungai kecil yang jernih tak lagi sekadar pemandangan alam. Ia menjadi sumber kehidupan baru, listrik bersih. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kini mengalirkan energi dari air untuk menerangi rumah-rumah, sekolah, dan usaha mikro, membawa harapan bagi desa yang dulu bergantung pada genset dan pasokan listrik tak menentu.
PLTMH merupakan salah satu solusi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang terus didorong PLN di berbagai daerah. Di Jawa Timur, sejumlah PLTMH telah dibangun atau dikembangkan sebagai bagian dari strategi memperluas akses energi bersih.
Salah satu contoh adalah mikro hidro yang berkembang di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Di sini, PLTMH yang dikembangkan secara gotong royong oleh warga setempat telah menghasilkan listrik dengan kapasitas puluhan kilowatt sehingga dapat mengaliri puluhan hingga ratusan kepala keluarga. Aliran air sungai yang mengalir deras pada musim hujan itu kini diubah menjadi energi yang menghidupkan lampu-lampu rumah di malam hari.
Tak hanya itu, PLN juga terus memperluas jaringan PLTMH bersama mitra swasta. Di Kabupaten Banyuwangi, misalnya, terdapat PLTMH Bayu dan Sumber Arum 2 yang mampu meningkatkan kualitas tegangan listrik sekaligus melayani puluhan ribu pelanggan di wilayah.
Bahkan di Kota Pasuruan, pembangkit mini hidro yang dikenal sebagai PLTMH Kanzy telah mulai dioperasikan PLN, menambah pasokan energi bersih di sistem kelistrikan Jawa Timur dan memperluas kontribusi EBT.
Bagi General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, mikro hidro bukan sekadar teknologi sederhana. Ia adalah jawaban terhadap tantangan energi di daerah dengan potensi air tetapi jauh dari pusat pembangkit besar.
“PLTMH adalah contoh nyata bahwa energi bersih tidak harus berskala besar. Dari aliran sungai yang ada, kita bisa menghadirkan listrik yang andal, ramah lingkungan, dan dekat dengan masyarakat,” ujar Ahmad Mustaqir, disela acara temu media, Kamis (15/1/2026).
Menurut Ahmad, pengembangan PLTMH di Jatim menunjukkan bahwa teknologi ini mampu memperkuat ketahanan energi lokal sekaligus menurunkan emisi karbon karena memanfaatkan sumber daya air yang terbarukan dan bersih. Ia menambahkan, mikro hidro juga menjadi bentuk inklusi energi, dimana desa-desa terpencil kini dapat menikmati listrik tanpa tergantung sepenuhnya pada jaringan listrik besar atau bahan bakar fosil.
“Energi terbarukan seperti mikro hidro adalah bagian dari strategi jangka panjang kita untuk membangun sistem kelistrikan yang berkelanjutan. Ini bukan hanya soal jumlah megawatt, tetapi soal pemerataan akses energi bagi seluruh masyarakat,” tambahnya.
Penduduk desa yang pernah bergantung pada genset kini merasakan manfaat langsung dari listrik yang bersih dan stabil, anak-anak bisa belajar lebih leluasa di malam hari, UMKM lokal berkembang karena ketersediaan listrik yang lebih baik, dan lingkungan pun terjaga dari polusi suara serta udara akibat penggunaan bahan bakar fosil.
Ke depan, PLN UID Jawa Timur terus mendorong eksplorasi potensi mikro hidro di berbagai wilayah, termasuk di kawasan yang disebut memiliki puluhan titik aliran air potensial, seperti di Kabupaten Malang. Potensi ini membuka peluang bagi desa-desa lain menjadi bagian dari revolusi energi.
PLTMH mengingatkan kita bahwa perubahan besar bisa bermula dari hal kecil: dari aliran sungai yang mengalir tenang, kini lahir listrik yang menerangi Indonesia dari pinggiran.











