KaMedia – Kritik keras akhirnya dilontarkan langsung oleh Bupati Sidoarjo, Subandi, terhadap kinerja PSSI Asosiasi Kabupaten (Askab) Sidoarjo. Di tengah kebanggaan Sidoarjo yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung talenta sepak bola nasional, prestasi yang dihasilkan justru dinilai jauh dari harapan. Bahkan, Subandi secara terbuka mempertanyakan ke mana arah pembinaan yang selama ini berjalan.
Pernyataan tajam itu disampaikan saat penutupan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Sidoarjo 2025 di Pendopo Delta Wibawa, Jumat (25/7). Di hadapan para atlet, pengurus cabang olahraga, dan tamu undangan, Subandi tidak menutupi rasa kecewanya terhadap kondisi sepak bola daerah yang menurutnya terus mengalami kemunduran
” Sidoarjo adalah gudangnya atlet sepak bola. Ironisnya, prestasi sepak bola yang ada di Sidoarjo hasilnya belum tahu,” tegas Subandi.
Ucapan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah mulai kehilangan kesabaran terhadap performa organisasi yang bertanggung jawab atas pembinaan sepak bola di tingkat kabupaten. Sebab, menurut Subandi, potensi atlet Sidoarjo tidak pernah habis, tetapi hasil yang muncul di lapangan belum mampu menjawab ekspektasi masyarakat.
Tak hanya mengkritik prestasi, Subandi juga menyinggung besarnya dukungan anggaran yang selama ini telah diberikan pemerintah daerah kepada Askab PSSI Sidoarjo. Ia mengingatkan bahwa sejak era kepemimpinan Ketua Askab Budi Basuki, pemerintah telah mengalokasikan anggaran pembinaan hingga Rp2 miliar.
Namun, besarnya dana tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan capaian prestasi yang dapat dibanggakan. Karena itu, ia menegaskan seluruh program pembinaan akan dievaluasi secara menyeluruh.
“Saya ingin sepak bola Sidoarjo berprestasi. Anggaran yang sudah dipersiapkan zaman Ketua Budi Basuki Rp2 miliar untuk Askab. Tapi untuk tahun ini hasilnya masih belum tahu, nanti kita koreksi,” ujar Subandi.
Pernyataan itu menjadi peringatan keras bagi jajaran pengurus Askab PSSI Sidoarjo. Di tengah besarnya investasi pemerintah terhadap pembinaan olahraga, publik kini menuntut transparansi, akuntabilitas, dan bukti nyata berupa prestasi, bukan sekadar program di atas kertas.
Subandi menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tidak akan tinggal diam melihat prestasi sepak bola daerah terus merosot. Jika pembinaan dinilai tidak berjalan efektif, Pemkab siap turun tangan melakukan pembenahan agar sepak bola Sidoarjo kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan di tingkat regional maupun nasional.
Langkah evaluasi ini diperkirakan akan menjadi momentum penting bagi masa depan sepak bola Sidoarjo. Pengurus Askab dituntut mampu menjawab kritik dengan kerja nyata, sementara masyarakat menunggu apakah miliaran rupiah yang telah digelontorkan benar-benar menghasilkan atlet berkualitas atau justru tenggelam tanpa jejak prestasi.
Sorotan Bupati Subandi sekaligus membuka ruang evaluasi yang lebih luas terhadap tata kelola organisasi olahraga di daerah. Sebab, ketika anggaran besar sudah tersedia tetapi prestasi tak kunjung datang, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal potensi atlet, melainkan efektivitas kepemimpinan, sistem pembinaan, dan penggunaan anggaran. Kini bola berada di kaki Askab PSSI Sidoarjo: menjawab kritik dengan prestasi atau terus menjadi sasaran pertanyaan publik.











