KaMedia – Setelah mengalami masa-masa penantian selama empat belas bulan, umat Katolik di Surabaya telah mendapatkan sosok gembala baru. Nama gembala anyar ini diumumkan dalam misa syukur pengumuman uskup baru di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya, Selasa malam (29/10/2024).
Vatikan sudah memilih Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo untuk mengisi kekosongan takhta Keuskupan Surabaya. Pastor berusia 56 tahun itu adalah iman diosesan di keuskupan tersebut.
Pengumuman tersebut dibacakan secara langsung oleh Administrator Diosesan Keuskupan Surabaya, RD. Yosef Eko Budi Susilo. Ia mewakili Nunsius Apostolik yang saat ini tengah cuti untuk membacakan kabar kegembiraan tersebut.
“Melalui surat ini, dan atas nama Nunsius Apostolik yang sedang mengambil cuti, dengan kegembiraan, saya resmi secara mengukuhkan bahwa Paus Fransiskus telah mengangkat RD. Agustinus Tri Budi Utomo yang saat ini menjabat sebagai Vikaris Pastoral, menjadi Uskup Surabaya yang baru,” seru Romo Eko diiringi tepuk tangan meriah dari segenap umat di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya.
“Berita ini sekarang dipublikasikan di Roma dan seluruh dunia,” tambah Romo Eko melanjutkan pembacaan pengumuman tersebut.
Romo Eko juga mengajak semua imam, biarawan/biarawati, serta umat beriman untuk mendoakan dan menyambut uskup terpilih sepenuh hati sebagai gembala yang baru.
Dosen Hukum Gereja di Institut Teologi Yohanes Maria Vianney Surabaya (Imavi), Romo Antonius Yanuardi Hendro Wibowo, menjelaskan bahwa penentuan uskup baru merupakan kuasa penuh yang dimiliki Paus.
Namun demikian, Paus juga dapat meminta pertimbangan dari Gereja lokal untuk mengusulkan nama-nama imam yang dinilai layak untuk menjadi uskup.
“Untuk memilih seorang uskup, Paus sendiri bisa dengan bebas dia menunjuk seseorang untuk menjadi uskup. Atau juga meneguhkan mereka yang telah dipilih secara berjenjang untuk menjadi seorang uskup,” terang Romo. Eko.
Sosok Uskup baru Surabaya merupakan putra kelahiran Ngawi, pada tanggal 12 Maret 1968. Ia mulai menjalani panggilan imamatnya dengan menjadi seminaris di Seminari Vincentius a Paulo, Garum, Blitar.
Seusai menempuh pendidikan seminari menengah di Seminari Garum, Romo Didik juga melanjutkan studi ke Seminari Tinggi Santo Giovanni XXIII, Malang. Pendidikan S-1 dan S-2 sebagai calon imam ditamatkannya di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang.
Setelah menuntaskan jenjang pendidikan magisternya, Romo Didik lalu menerima tahhisan sebagai imam pada 27 Agustus 1996.
Setelah resmi menjadi seorang imam, Romo Didik pernah menerima penugasan sebagai pendeta paroki di Paroki Maria Annuntiata, Sidoarjo, Paroki Santo Paus Pius X, Blora, dan P aroki Wilibrordus, Cepu.
Bahkan ia juga pernah diperbantukan sebagai pendeta paroki di Keuskupan Ketapang. Di sana, ia ditempatkan di P aroki Kanak-kanak Yesus, Marau, dan P aroki Carolus Boromeus, Tembelona.
Pastor berkacamata ini juga sempat mengemban amanah sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Surabaya pada medio 2011-2017.
Dengan berubahnya status Romo Didik menjadi Mgr. Didik, kini Keuskupan Surabaya telah berakhir masa-masa sede vacante .
Seperti yang telah disebutkan oleh Romo Eko ketika membacakan pengumuman uskup baru, sampai sebelum diumumkan sebagai uskup baru, karya terakhir Mgr. Didik adalah sebagai Vikaris Pastoral Keuskupan Surabaya.











