KaMedia – Penampilannya rapi dan tenang. Kemeja bersih, tutur kata terjaga, senyum mudah mengembang. Sekilas, siapa pun akan menebaknya sebagai seorang pengusaha sukses. Padahal, di balik sikap elegan itu, ia adalah seorang dokter yang lama berkutat dengan kemiskinan, sekaligus wakil rakyat yang kini bersuara lantang di ruang-ruang kebijakan.
Dialah Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes, anggota DPRD Kota Surabaya Fraksi PSI dan duduk di Komisi D, komisi yang bersentuhan langsung dengan urusan paling mendasar warga, kesejahteraan dan kesehatan.
Michael bukan tipe politisi yang lahir dari panggung kampanye besar. Ia datang dari lorong-lorong sempit, dari ruang praktik sederhana, dari perjumpaan sunyi dengan mereka yang sering tak punya pilihan selain menahan sakit.
“Saya itu dokter duafa, Mas,” katanya suatu waktu.
“Pasien saya masyarakat yang papa dan tidak berdaya. Tapi saya menikmati tugas itu, karena memang itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai dokter.” Kalimat itu meluncur tanpa dramatisasi.
Bagi Michael, melayani kaum marginal bukanlah cerita heroik, melainkan rutinitas yang membentuk empati dan keberpihakannya.Bertahun-tahun berhadapan langsung dengan pasien yang bahkan tak mampu membeli obat, membuatnya paham bahwa masalah kesehatan bukan sekadar soal medis, tapi juga soal sistem, kebijakan, dan keberanian bersuara.
Relasinya yang kuat dengan masyarakat pinggiran tumbuh bukan karena baliho atau janji politik, melainkan karena kehadiran nyata. Ia dikenal, diingat, dan dipercaya. Tak mengherankan, saat Pemilu 2024, suara rakyat mengantarkannya ke kursi DPRD Kota Surabaya.
Setahun sudah Michael menjalani peran barunya sebagai wakil rakyat. Namun jas dokter itu, secara nilai, tak pernah benar-benar ia lepaskan. Di ruang-ruang rapat dengar pendapat bersama Pemerintah Kota Surabaya, suaranya kerap terdengar tegas, khususnya ketika membahas layanan kesehatan.
Bagi Michael, data dan regulasi penting, tetapi pengalaman lapangan jauh lebih menentukan. Ia tahu bagaimana rasanya antre panjang, ditolak layanan, atau kebingungan menghadapi birokrasi kesehatan.
“Setahun sudah saya duduk sebagai anggota dewan, dan alhamdulillah sudah banyak perubahan yang baik dalam layanan kesehatan,” ujarnya dalam sebuah podcast di Radio Bahtera Yudha Surabaya, Senin (19/1/2026).
Perubahan itu, menurutnya, bukan hasil kerja satu orang. Namun ia percaya, keberanian untuk menyampaikan suara rakyat, terutama yang sering tak terdengar, adalah kunci.
Pria yang dikenal dekat dengan insan media ini tak menutup mata bahwa layanan kesehatan di Surabaya masih memiliki celah. Baginya, keberhasilan bukan alasan untuk berpuas diri.
“Kita akan terus melakukan pengawasan terhadap kinerja layanan kesehatan ini. Meski sudah baik, pasti masih ada kekurangannya,” ujarnya.
“Dan itu menjadi tugas kita untuk mengawasi dan mengingatkan dinas terkait.” lanjutnya.
Michael memilih jalan sunyi: konsisten, hadir, dan bersuara ketika perlu. Ia tidak menjual citra, tidak pula mengumbar pencapaian. Mungkin karena sejak awal, ia terbiasa berhadapan dengan mereka yang hidup tanpa sorotan.Dari ruang praktik kaum duafa hingga ruang sidang wakil rakyat,
Michael Leksodimulyo berjalan dengan benang merah yang sama, keberpihakan pada manusia. Dan barangkali, di situlah letak kekuatan sejatinya, tenang, sederhana, namun berdampak.











