KaMedia – Jawa Timur siap mengukuhkan posisinya sebagai pelopor energi hijau di Indonesia. PLN Nusantara Power (PLN NP) terus memacu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Waduk Sutami, Kabupaten Malang. Hingga Oktober 2026, konstruksi fisik infrastruktur proyek ramah lingkungan ini telah menembus angka 70 persen.
Memiliki kapasitas terpasang sebesar 133 Megawatt peak (MWp), PLTS Terapung Karangkates diproyeksikan menjadi PLTS terapung terbesar kedua di Indonesia—menyulut kejayaan setelah PLTS Terapung Cirata (192 MWp) di Jawa Barat.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menegaskan bahwa akselerasi proyek ini merupakan komitmen nyata perusahaan dalam mendukung transisi energi bersih nasional.
“Pembangunan PLTS Terapung Karangkates terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Capaian 70 persen ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus mengawal penyelesaian proyek dengan tetap mengutamakan keselamatan, kualitas, dan keandalan pembangkit,” ujar Ruly.
Dari total 1.905 hektare luas permukaan Waduk Sutami, proyek ini hanya menggunakan 71,4 hektare (sekitar 3,7%) untuk area modul surya. Tidak ada pembukaan lahan darat skala besar, sehingga fungsi utama waduk tetap terjaga.
PLTS Terapung Karangkates dirancang memiliki 8 PV Island dengan rasio DC/AC sebesar 1,33 guna memaksimalkan penyerapan daya matahari secara optimal. Saat ini infrastruktur penyaluran tengah dikerjakan, meliputi pembangunan jaringan transmisi 150 kV sepanjang 4,6 km sirkuit serta perluasan (extension bay) pada Gardu Induk Sutami 150 kV.
Memasuki tahap akhir konstruksi, fokus pekerjaan kini tertuju pada penyelesaian fasilitas utama, persiapan backfeeding power, dan sinkronisasi ke jaringan transmisi nasional.
PLTS Terapung Karangkates target inisiasi produksi listrik pertama (first power) dilakukan pada Desember 2926. Sementara target beroperasi penuh secara komersial pada awal 2027.
Hadirnya PLTS Terapung Karangkates tak sekadar menambah bauran energi terbarukan di Jawa Timur, melainkan juga membuktikan bahwa optimalisasi aset perairan dapat menjadi solusi cerdas pasokan energi masa depan Indonesia.











