KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Pejabat Gubernur Sementara (Pjs.) Bank Indonesia Destry Damayanti menjadi narasumber utama dalam Forum Bank Indonesia Mengajar 2026 sekaligus meninjau implementasi Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang, Jumat (31/7).
Dalam forum tersebut, Khofifah mengajak para siswa untuk menjadi generasi yang siap menghadapi perubahan zaman dengan terus mengembangkan kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan memanfaatkan kemajuan teknologi, termasuk digitalisasi serta artificial intelligence (AI).
“Anak-anak harus dibiasakan untuk terus berinovasi, mampu mencari solusi atas setiap tantangan yang dihadapi. Implementasi Program SIKAP di SMAN Taruna Nala ini menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi bisa dimulai dari lingkungan sekolah melalui pemanfaatan lahan dan media tanam yang tersedia,” ujar Khofifah.
Senada dengan itu, Pjs. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan pentingnya membangun karakter generasi muda yang adaptif dan inovatif agar mampu bersaing di tengah perubahan global yang semakin cepat.
“Anak-anak harus terus bertumbuh. Tidak cukup hanya mempelajari apa yang ada di depan mata, tetapi juga harus terdorong menjadi pribadi yang agile, adaptif, dan inovatif agar siap menghadapi tantangan yang semakin kompleks,” pesannya.
Menurut Destry, bonus demografi Indonesia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, dan berkarakter. Karena itu, generasi muda perlu membangun kebiasaan untuk terus berinovasi sejak dini.
Sementara itu, Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar melalui bonus demografi. Dari total penduduk sebanyak 281,6 juta jiwa, sekitar 190,9 juta di antaranya berada pada usia produktif.
“Potensi ini menjadikan generasi milenial dan Gen Z sebagai motor utama dalam mengakselerasi digitalisasi,” katanya.
Ia optimistis potensi tersebut mampu mengantarkan Indonesia menjadi negara maju. Namun, berbagai tantangan harus dijawab dengan peningkatan inovasi dan penguasaan teknologi. Berdasarkan Global Innovation Index 2024, Indonesia masih berada di peringkat ke-54 dari 133 negara, sementara Malaysia berada di posisi ke-33 dan Singapura di posisi ke-4.
“Posisi ini harus menjadi motivasi bersama untuk terus mengejar ketertinggalan. Anak-anak kita harus dipersiapkan menjadi Generasi Emas Indonesia 2045,” tegasnya
Khofifah juga mengingatkan bahwa perkembangan AI, digitalisasi, dan teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan. Bahkan, pada 2030 diproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan utama di dunia kerja akan mengalami perubahan.
“Karena itu, anak-anak dan generasi muda juga harus ikut berubah. Mereka harus memiliki kemampuan adaptasi dan semangat belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Salah satu upaya membangun budaya inovasi tersebut, lanjut Khofifah, diwujudkan melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Program ini mendorong seluruh warga sekolah memanfaatkan lahan yang tersedia untuk mengembangkan berbagai inovasi pertanian dan perikanan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.
“Program SIKAP tidak hanya mengajarkan siswa, tetapi juga guru dan tenaga kependidikan untuk membudidayakan tanaman pangan maupun ternak yang dimulai dari lingkungan sekolah,” jelasnya.
Usai kegiatan BI Mengajar, Khofifah bersama Kepala SMAN Taruna Nala Jawa Timur Husnul Chotimah mendampingi Destry Damayanti meninjau implementasi Program SIKAP di lingkungan sekolah.
Mereka melihat langsung berbagai inovasi yang dikembangkan, mulai dari budidaya cabai, terong, bunga kol, hingga padi yang ditanam menggunakan media galon bekas. Selain itu, mereka juga meninjau budidaya ikan lele yang dikembangkan dengan konsep serupa.
Pada kesempatan tersebut, Khofifah melakukan penanaman bibit pohon nangka dalam pot, sementara Destry Damayanti menanam bibit pohon mangga.
Menurut Khofifah, Program SIKAP merupakan implementasi nyata dukungan dunia pendidikan terhadap program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Selain menjadi media pembelajaran, program ini juga membentuk karakter peserta didik agar lebih mandiri, produktif, dan peduli terhadap lingkungan.
“Anak-anak harus semangat merawat dan memelihara semua yang sudah ditanam agar terus tumbuh subur dan hasilnya dapat dimanfaatkan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Sementara itu, Destry Damayanti mengapresiasi implementasi Program SIKAP yang dinilainya relevan dengan tantangan global, khususnya dalam menjaga stabilitas pangan sekaligus mengendalikan inflasi.
” Ini pertama kalinya saya mengajar di sekolah taruna tingkat SMA seperti ini, dan saya sangat kagum. Program SIKAP sangat sejalan dengan upaya kita mengantisipasi inflasi dari sektor pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama kedaulatan bangsa, bersama ketahanan energi serta pertahanan dan keamanan.
“Tiga hal ini menjadi fondasi penting bagi kedaulatan sebuah negara, yaitu ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan pertahanan-keamanan,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala SMAN Taruna Nala Jawa Timur Husnul Chotimah menyampaikan apresiasi atas kunjungan Gubernur Jawa Timur dan Pjs. Gubernur Bank Indonesia yang dinilai menjadi penyemangat bagi seluruh warga sekolah untuk terus mengembangkan Program SIKAP.
“Kami semakin termotivasi untuk mengembangkan Program SIKAP. Insyaallah program ini akan terus kami tingkatkan karena menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.











