HeadlinePemerintahanSurabaya

Malam Dibongkar, Sejarah Diluruskan: Fasad Eks Toko Nam Surabaya Tinggal Hitungan Hari

×

Malam Dibongkar, Sejarah Diluruskan: Fasad Eks Toko Nam Surabaya Tinggal Hitungan Hari

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Surabaya kembali menata wajah kotanya, kali ini lewat pembongkaran fasad eks Toko Nam di Jalan Embong Malang yang dilakukan diam-diam saat malam hari. Di balik deru alat berat dan penerangan seadanya, langkah ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga upaya meluruskan jejak sejarah yang sempat bias di mata publik.

Pemerintah Kota Surabaya menargetkan pembongkaran rampung dalam waktu tiga hingga lima hari. Prosesnya dilakukan bertahap, dimulai dari pelepasan besi penguat, dilanjutkan pembongkaran beton, hingga rekondisi pedestrian yang terdampak.

Sekretaris Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Mohamad Iman Rachmadi, menjelaskan bahwa pekerjaan sengaja dilakukan pada malam hari demi menghindari kemacetan serta menjaga keselamatan pekerja dan pengguna jalan.

“Karena kita menggunakan sebagian badan jalan dan menunggu aktivitas sekitar selesai, termasuk operasional pusat perbelanjaan di sekitarnya,” ujarnya saat meninjau lokasi, Kamis malam.

Setiap malam, pengerjaan berlangsung sekitar enam jam, dari pukul 22.00 hingga 04.00 WIB. Dalam waktu singkat itu, tim harus menghadapi tantangan utama: struktur fasad yang tinggi dengan rangka besi yang menempel kuat.

Untuk menghindari risiko, pembongkaran dilakukan dengan metode segmentasi. Struktur dipotong menjadi beberapa bagian, lalu secara bertahap dilemahkan sebelum diarahkan jatuh ke area jalan yang sudah diamankan.

“Tidak bisa langsung diruntuhkan. Harus bertahap, kita kurangi dulu kekuatannya,” jelas Iman.

Namun, lebih dari sekadar teknis pembongkaran, keputusan ini juga membawa pesan penting soal sejarah kota.

Sebelumnya, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Surabaya telah memastikan bahwa fasad eks Toko Nam bukanlah bangunan cagar budaya. Struktur tersebut merupakan replika yang dibangun ulang setelah bangunan asli dibongkar pada akhir 1990-an.

Pegiat sejarah dari komunitas Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, menilai pembongkaran ini sebagai langkah tepat agar publik tidak terus terjebak dalam persepsi keliru.

“Banyak yang mengira itu bangunan lama, padahal itu replika. Kalau dibiarkan, bisa menyesatkan generasi baru,” tegasnya.

Menurutnya, secara arsitektural maupun historis, replika tidak memiliki urgensi untuk dipertahankan layaknya bangunan asli. Justru, keberadaannya berpotensi menciptakan narasi sejarah yang tidak akurat.

Kini, seiring bagian demi bagian fasad itu diturunkan, Surabaya bukan hanya merobohkan bangunan, tetapi juga merapikan ingatan kolektif warganya.

Dalam beberapa hari ke depan, wajah kawasan Embong Malang akan berubah. Dan bersama runtuhnya fasad tersebut, satu hal menjadi jelas: menjaga sejarah bukan sekadar mempertahankan bentuk fisik, tetapi memastikan kebenaran tetap berdiri.