KaMedia – Pagi itu halaman SMKN 2 Sampang tak sekadar menjadi lokasi seremoni. Di antara deretan siswa berseragam rapi dan ruang-ruang belajar yang baru dicat, sebuah gagasan besar tentang masa depan Madura diluncurkan.
Di hadapan kepala sekolah, guru, dan ratusan pelajar, Gubernur Khofifah memperkenalkan program bertajuk MAMA MAU NAIK KELAS, akronim dari Madura Maju, Madura Unggul, Madura Naik Kelas. Bagi Khofifah, ini bukan slogan yang berhenti di spanduk, melainkan gerakan terukur untuk mempercepat peningkatan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Pulau Garam.
“Bukan soal maju atau tidak maju. Tapi ada kemajuan yang diukur dunia,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Dalam narasi besar pembangunan daerah, pendidikan selalu menjadi fondasi. Namun bagi Madura, tantangannya berlapis: akses, pemerataan mutu, hingga daya saing lulusan untuk menembus perguruan tinggi negeri.
Melalui program ini, Pemprov Jawa Timur menargetkan penguatan literasi dan numerasi siswa SMA/SMK, sekaligus mendongkrak angka kelulusan ke PTN melalui jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) yang terintegrasi dengan UTBK.
Sebanyak 12 SMA Negeri ditunjuk sebagai sekolah percontohan. Di sana, pemetaan potensi siswa dilakukan lebih dini. Try out UTBK digelar berkala, hasilnya dianalisis, kelemahan dibedah, strategi diperbaiki.
Kepala sekolah didorong bukan hanya menjadi administrator, tetapi juga navigator masa depan murid-muridnya.
“Kita ingin lebih banyak anak Madura tembus PTN,” tegas Khofifah.
Seiring peluncuran program akademik tersebut, Pemprov Jawa Timur meresmikan revitalisasi dan rehabilitasi sarana prasarana di 60 SLB, SMA, dan SMK negeri maupun swasta se-Madura.
Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp47,8 miliar. Di Kabupaten Bangkalan, 13 SMA dan 3 SMK diperbaiki. Di Sampang, 7 SMA, 5 SMK, dan 3 SLB mendapat sentuhan baru. Di Pamekasan, 5 SMA dan 8 SMK direhabilitasi. Di Sumenep, 11 SMA, 3 SMK, dan 2 SLB ikut direvitalisasi.
Ruang kelas yang sebelumnya kusam kini lebih terang. Atap yang bocor diperbaiki. Laboratorium dilengkapi. Di SMKN 2 Sampang, 20 unit komputer baru diserahkan untuk memperkuat pembelajaran berbasis teknologi.nBagi siswa, perubahan itu terasa nyata. Bagi guru, fasilitas yang lebih representatif memberi ruang untuk mengajar lebih optimal.
“Peningkatan mutu pendidikan harus dibarengi peningkatan kualitas layanan. Siswa dan guru harus nyaman dalam proses transfer ilmu,” ujar Khofifah.
Menariknya, program ini tak berhenti pada intervensi fisik dan akademik. Pemprov juga menyiapkan skema reward bagi sekolah yang berhasil menggandakan jumlah siswa lolos PTN dibanding tahun sebelumnya.
Hadiah itu bukan sekadar piagam, melainkan tambahan revitalisasi infrastruktur sekolah.
Pesannya jelas: prestasi dihargai, kerja keras diapresiasi. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebut langkah ini sebagai upaya mengurangi kesenjangan mutu antara wilayah daratan dan kepulauan di Madura.
“Kita ingin ekosistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, 40 siswa SMA dan SMK berprestasi dari keluarga prasejahtera menerima bantuan pendidikan masing-masing Rp1 juta. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi maknanya dalam: negara hadir untuk memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus mimpi.
Di tengah tantangan kemiskinan dan disparitas wilayah, pendidikan menjadi jalur mobilitas sosial paling rasional dan paling mungkin.
Program MAMA MAU NAIK KELAS adalah ikhtiar mengubah statistik menjadi cerita sukses. Mengubah ruang kelas menjadi ruang harapan. Mengubah Madura dari sekadar wilayah geografis menjadi pusat lahirnya generasi unggul.
Transformasi memang tidak instan. Namun dari ruang-ruang belajar yang kini lebih layak itu, satu pesan ditegaskan: Madura tidak sedang berjalan di tempat.
Madura sedang naik kelas.











