KaMedia – Suasana Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) I PWNU Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Bejagung 2 Tuban, 11–12 April 2026, tidak sekadar menjadi forum konsolidasi program kerja. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang refleksi mendalam tentang arah gerak Nahdlatul Ulama di tengah perubahan zaman.
Ketua PWNU Jawa Timur, Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyoroti adanya pergeseran penting dalam tubuh organisasi. Ia menegaskan bahwa salah satu kekuatan utama NU yang mulai memudar adalah tradisi silaturahmi, nilai yang selama ini menjadi ruh dan pengikat sosial warga Nahdliyyin.
“NU hari ini terasa berbeda. Yang paling mencolok, silaturahim tidak lagi tampak sebagai bagian yang hidup, bahkan tidak ditemukan dalam peraturan terbaru,” ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur formal, tetapi juga pada praktik sosial-kultural yang hidup di tengah masyarakat. Gus Kikin pun mengajak seluruh elemen NU untuk melakukan muhasabah dan evaluasi menyeluruh.
Dengan jumlah jam’iyyah yang mencapai sekitar 150 juta di Indonesia, ia menegaskan pentingnya arah gerak yang kolektif.
“Untuk apa besar, kalau berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya, berharap Muskerwil ini melahirkan gagasan strategis yang berdampak nyata bagi masa depan umat.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, menekankan pentingnya sinergi antara Nahdlatul Ulama dan pemerintah daerah dalam membangun Jawa Timur.
“Kehadiran kami di sini adalah untuk memperkuat kemitraan demi kemaslahatan umat. NU telah terbukti berkontribusi besar dalam pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi yang erat antara warga Nahdliyyin dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan semakin memperkuat pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, yang secara resmi membuka Muskerwil, mengajak peserta melihat forum ini dalam perspektif yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa Muskerwil menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah NU menuju Muktamar ke-35.
“Muktamar mendatang bukan sekadar agenda rutin, tetapi penanda berakhirnya abad pertama dan dimulainya abad kedua NU,” jelasnya.
Ia pun menekankan pentingnya menghadirkan gagasan yang genuin dari akar rumput, pandangan autentik yang lahir dari realitas warga, bukan sekadar wacana elite.
Penguatan dimensi ideologis organisasi disampaikan oleh KH. Abdul Matin Jawahir, Wakil Syuriah PWNU Jawa Timur. Dalam taujihnya, ia mengingatkan pentingnya kembali pada Qanun Asasi sebagai fondasi dasar NU.
Menurutnya, posisi Rais Aam harus dikembalikan sebagai otoritas tertinggi dalam struktur hukum organisasi.
“Siapapun Rais Aamnya, jadikan sebagai supremasi hukum,” pesannya.
Ia juga menyampaikan dukungan penuh terhadap suksesnya Muktamar NU pada Agustus 2026, termasuk pelaksanaan yang mengikuti arahan Rais Aam.
Muskerwil ini pun diharapkan tidak hanya menghasilkan program kerja, tetapi juga memperkuat kembali nilai-nilai dasar NU, silaturahmi, kebersamaan, dan kepatuhan pada Qanun Asasi sebagai pijakan menuju abad kedua Nahdlatul Ulama.











