EkonomiHeadlineSurabaya

Indonesia Ketuk Palu B50 Besok: Pakar ITS Warning Risiko Mesin ‘Over-Fueling’ hingga Penyumbatan Filter

×

Indonesia Ketuk Palu B50 Besok: Pakar ITS Warning Risiko Mesin ‘Over-Fueling’ hingga Penyumbatan Filter

Sebarkan artikel ini
Implementasi Biodiesel B50, pemerintah ingin mendorong ketahanan kemandirian energi bangsa (sumber dari pixabay @planet_fox)

KaMedia – Ambisi pemerintah untuk mengetuk palu penerapan biodiesel B50 per 1 Juli 2026 besok dipastikan tidak akan berjalan mulus tanpa catatan. Meski digadang-gadang sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional, kesiapan teknis di lapangan masih menjadi rapor merah yang harus segera dibereskan.

​Guru Besar Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Bambang Sudarmanta, ST., MT., mengingatkan bahwa implementasi B50 tidak bisa hanya bermodal kebijakan di atas kertas. Pemerintah wajib menggunakan pendekatan berbasis mesin (engineering-driven approach) yang komprehensif.

​”Secara fundamental, karakteristik biodiesel sangat berbeda dari diesel fosil. Perubahan fisik dan kimia ini berdampak langsung pada performa, keandalan, dan umur mesin,” tegas Bambang.

​Ancaman Nyata: Dari Over-Fueling hingga Kristal Suhu Rendah

​Sebagai ahli teknik pembakaran, Bambang membedah tiga titik kritis bahan bakar B50 yang berpotensi “Menyiksa” mesin kendaraan masyarakat:

​Masalah Densitas & Viskositas Tinggi: Biodiesel B50 memiliki cairan yang lebih kental dan padat. Efeknya, bahan bakar yang tersemprot ke mesin menjadi terlalu banyak (over-fueling). Selain itu, pengembunan (atomisasi) bahan bakar menjadi tidak sempurna karena butiran dropletnya terlalu besar. Akibatnya? Timbul kerak (deposit) dan emisi partikulat yang tinggi.

​Sifat Higroskopis (Serap Air): B50 sangat “hobi” menyerap air dari lingkungan sekitar selama masa penyimpanan dan distribusi. Air yang terjebak ini memicu pertumbuhan bakteri dan jamur (biofilm) serta senyawa asam. “Dalam jangka panjang, ini akan menyebabkan korosi dan kegagalan fatal pada sistem injektor serta pompa tekanan tinggi,” jelas Bambang.

​Fenomena Cold Flow (Pembekuan): Kandungan methyl ester jenuh dalam biodiesel memicu terbentuknya gumpalan mirip kristal saat suhu dingin. Kristal inilah yang kerap menyumbat filter bahan bakar dan membuat mesin mogok atau gagal start.

​Menghadapi risiko teknis yang kompleks ini, Prof. Bambang mendesak pemerintah dan produsen untuk tidak melepas B50 begitu saja ke pasar tanpa strategi mitigasi yang matang. Ia merekomendasikan beberapa solusi mutakhir :

​Penggunaan Aditif Khusus: Wajib menggunakan cold flow improver untuk mencegah pembekuan dan aditif anti-oksidasi.

​Sistem Penyimpanan Tertutup: Menggunakan separator air-bahan bakar yang ketat di setiap tangki distribusi.

​Teknologi Digital Twin: Mendorong metode predictive maintenance berbasis sensor digital untuk mendeteksi kerusakan komponen mesin sejak dini sebelum terjadi mogok total (injector fouling).

​Di akhir ulasannya, Bambang menekankan bahwa transisi menuju kemandirian energi ini harus tetap sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin energi bersih (poin 7), kota berkelanjutan (poin 11), serta produksi yang bertanggung jawab (poin 12).

​B50 adalah masa depan, namun tanpa persiapan rekayasa mesin yang matang, niat baik swasembada energi justru bisa berbalik menjadi beban biaya perawatan kendaraan yang mencekik masyarakat.

Tag:
Penulis: Oscar LatumahinaEditor: Ferdiansyah