KaMedia – Ancaman blackout bukan lagi sekadar skenario. Di tengah derasnya transisi menuju energi baru terbarukan, sistem kelistrikan Indonesia menghadapi tantangan baru yang membuatnya semakin rentan terhadap gangguan. Menjawab persoalan tersebut, Guru Besar ke-252 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng. Ir. Ardyono Priyadi, ST, MEng, mengembangkan berbagai teknologi untuk menjaga sistem tenaga listrik tetap stabil, andal, dan tangguh.
Profesor dari Departemen Teknik Elektro ITS itu menjelaskan, semakin besar pemanfaatan pembangkit energi terbarukan berbasis inverter, semakin rendah inersia sistem kelistrikan. Dampaknya, jaringan listrik menjadi lebih sensitif terhadap gangguan dan berpotensi mengalami ketidakstabilan hingga pemadaman luas apabila tidak diantisipasi.
” Sistem tenaga listrik harus mampu merespons gangguan secara cepat, tepat, dan tetap andal,” tegas Ardyono.
Terobosan utama Ardyono terletak pada pengembangan metode perhitungan critical clearing time (CCT), yaitu batas waktu kritis yang menentukan apakah sistem masih mampu bertahan setelah terjadi gangguan. Semakin panjang nilai CCT, semakin besar peluang sistem mengisolasi gangguan sebelum berkembang menjadi kegagalan yang lebih luas.
Untuk memperpanjang waktu kritis tersebut, Ardyono bersama tim mengembangkan sejumlah inovasi, mulai dari pemanfaatan superkapasitor sebagai penyerap energi, Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) untuk membatasi arus gangguan, hingga penerapan Virtual Synchronous Generator (VSG) pada sistem microgrid berbasis energi terbarukan.
” Berbagai pendekatan ini terbukti mampu memperpanjang toleransi sistem sebelum kehilangan sinkronisasi,” jelasnya.
Tak berhenti di sana, Ardyono juga mengembangkan metode koordinasi relai proteksi berbasis analisis stabilitas transien yang mengintegrasikan relai arus lebih dan reverse power relay. Teknologi yang mulai diterapkan pada sistem kelistrikan industri sejak 2016 tersebut memungkinkan generator tetap beroperasi meski jaringan utama mengalami gangguan.
“Koordinasi relai ini meningkatkan stabilitas dan keandalan sistem, terutama ketika pembangkit energi terbarukan berbasis inverter semakin mendominasi jaringan listrik,” ungkapnya.
Keunggulan riset ini telah teruji di lapangan. Berbagai hasil penelitian Ardyono telah diterapkan pada sistem kelistrikan PT PLN, PT Pupuk Kaltim, PT Kaltim Daya Mandiri, hingga Medco Energi. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan ITS tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi telah menjadi solusi nyata bagi industri nasional.
Di akhir pemaparannya, Kepala Subdirektorat Pascasarjana ITS itu mengajak generasi muda untuk terus melahirkan inovasi di bidang sistem tenaga listrik.
“Jangan mudah menyerah dalam mengembangkan algoritma maupun metode baru untuk menjawab tantangan sistem tenaga listrik demi mewujudkan kemandirian energi bangsa,” pesannya.
Melalui inovasi tersebut, Ardyono berharap Indonesia semakin siap menghadapi era sistem kelistrikan modern yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta tujuan ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.











