OlahragaSurabaya

IMI Surabaya Desak Pengelolaan Sirkuit Bung Tomo Diperketat dan Berbasis Klaster

×

IMI Surabaya Desak Pengelolaan Sirkuit Bung Tomo Diperketat dan Berbasis Klaster

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Surabaya menyoroti lemahnya pengelolaan Sirkuit Bung Tomo yang dinilai belum optimal. Ketua IMI Surabaya, Samsurin, mendesak adanya sistem pengelolaan berbasis klaster agar penggunaan sirkuit lebih tertib dan tepat sasaran.

Samsurin menegaskan, pengguna sirkuit harus dibedakan secara jelas antara atlet berprestasi, atlet binaan, dan masyarakat umum atau penghobi. Menurutnya, penghobi tetap dapat mengakses sirkuit, namun harus berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab IMI sesuai regulasi nasional olahraga bermotor.

“Tidak bisa digunakan sembarangan. Semua harus mengikuti SOP yang berlaku,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa Sirkuit Bung Tomo sebagai fasilitas olahraga memiliki standar yang sama dengan stadion besar lainnya di Surabaya, sehingga tidak boleh disewakan tanpa prosedur yang jelas dan ketat.

Pengawasan yang dinilai masih lemah menjadi sorotan utama. Kondisi ini disebut membuat manfaat sirkuit belum dirasakan maksimal oleh komunitas otomotif yang aktif. Samsurin pun meminta Pemerintah Kota Surabaya, khususnya Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora), untuk memperkuat penerapan regulasi terkait sistem sewa dan tarif sesuai Perwali dan Perda.

Secara fasilitas, Sirkuit Bung Tomo disebut telah memenuhi standar internasional dan menjadi rujukan bagi pengembangan sirkuit di sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Blitar, Madiun, dan Magetan.

Di sisi lain, Samsurin mengapresiasi menurunnya angka balap liar di Surabaya dalam beberapa bulan terakhir. Ia menilai tren ini dipengaruhi meningkatnya aktivitas latihan bersama di sirkuit. Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ini harus segera dimaksimalkan.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini bisa hilang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi penyalahgunaan dalam sistem penyewaan, khususnya melalui platform Surabaya Single Window, yang dinilai masih minim sosialisasi. Ketidaksesuaian antara data pendaftaran dan jumlah kendaraan di lapangan disebut berpotensi membuka celah praktik tidak transparan.

Samsurin berharap ke depan pengelolaan Sirkuit Bung Tomo dapat lebih tertib, transparan, dan mampu mendukung pembinaan atlet serta kebutuhan komunitas otomotif, terutama menjelang Porprov 2027.

Ekonomi

KaMedia – Pagi itu, suasana di Stasiun Surabaya Gubeng terasa berbeda. Di antara lalu-lalang penumpang yang bergegas mengejar jadwal keberangkatan, hadir sentuhan hangat yang tak biasa, senyum ramah para petugas…