KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9). Penyaluran bantuan turut dihadiri Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita.
Di tengah meluasnya dampak kekeringan, Khofifah mengajak seluruh pihak memaksimalkan berbagai ikhtiar, baik melalui pendekatan saintifik maupun spiritual.
” Semua pihak harus bersama-sama mengikhtiari. Secara saintifik kita lakukan operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, menarik air dari sumber-sumber terdekat. Secara spiritual kita memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Gotong royong masyarakat diperlukan, terutama untuk menjaga sumber air sekaligus mendukung solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi.
Untuk warga Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Pemprov Jatim menyalurkan 15.000 liter air bersih menggunakan tiga truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Selain air bersih, warga menerima tiga tandon, dua tandon lipat, 60 jerigen, serta bantuan sembako. Khusus penanganan kekeringan di Kabupaten Ponorogo, Pemprov Jatim juga menyiapkan 200 jerigen berkapasitas 15 liter dan 50 tandon berkapasitas 1.200 liter.
Di Ponorogo, kekeringan tercatat melanda lima kecamatan dengan dampak terhadap 241 keluarga atau 612 jiwa. Rinciannya, Kecamatan Pulung terdampak 56 keluarga atau 189 jiwa; Bungkal 111 keluarga atau 193 jiwa; Sampung 10 keluarga atau 35 jiwa; Jambon 120 jiwa; serta Slahung 36 keluarga atau 75 jiwa.
Hingga 19 September 2026, sebanyak 24 wilayah di Jawa Timur telah menetapkan status darurat akibat kekeringan dan krisis air bersih.
Selain dropping air, Pemprov Jatim melalui Dinas Sumber Daya Air memetakan sumber-sumber mata air yang berpotensi dialirkan ke wilayah terdampak melalui jaringan pipanisasi.
Khofifah mencontohkan pola serupa telah diterapkan di Singosari, Kabupaten Malang, dengan menarik air dari kawasan Gunung Arjuno sejauh 15 kilometer. Di lokasi lain, jaringan bahkan mencapai 17 kilometer.
” Kalau di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, kita bisa bersama-sama membangun konektivitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini,” ujarnya.
Namun, Khofifah mengakui pembangunan pipanisasi menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kekhawatiran masyarakat di sekitar sumber air bahwa kebutuhan mereka tidak tercukupi.
Pilihan lain adalah pengeboran sumur. Kendati demikian, kondisi geologi setiap daerah berbeda. Ada lokasi yang menemukan air pada kedalaman 90 meter, sementara di lokasi lain pengeboran hingga 200 meter masih menemui batuan sehingga mata bor harus diganti berkali-kali.
“Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” ungkap Khofifah.
Upaya lain dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dijalankan Pemprov Jatim sejak 3 September 2026.
Khofifah mengatakan, setiap kali terdeteksi awan yang masuk ke wilayah daratan Jawa Timur, dilakukan penyemaian untuk mendorong terjadinya hujan.
” Kita melakukan sangat banyak ikhtiar sejak tanggal 3 September lalu. Kalau BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jatim, kita lakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai sedang,” papar Khofifah.
Selain pendekatan saintifik, Khofifah juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual. Ia meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur mengimbau masjid-masjid melaksanakan Salat Istisqa setelah Salat Jumat pekan depan.
” Kemarin kita sudah melakukan Salat Istisqa’. Saya minta Jumat depan di masjid-masjid setelah Salat Jumat dilaksanakan Salat Istisqa, salat mohon kepada Allah agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” pesannya.
Penyaluran air bersih oleh Pemprov Jatim telah dilakukan di 23 kabupaten, antara lain Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, Sampang, dan Kediri.
Bagi warga Karangpatihan, bantuan tersebut menjadi penopang penting di tengah kekeringan yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Wagiyem (62), salah satu warga penerima bantuan, mengaku bersyukur atas distribusi air bersih tersebut. Ia mengatakan warga desanya telah mengalami kesulitan air selama sekitar lima bulan.
“Terima kasih Bu Gubernur, bantuan airnya sangat bermanfaat. Kami di sini sudah 5 bulan kekeringan, semoga tidak ada lagi kekeringan di tahun depan,” kata Wagiyem.











