Gaya HidupHeadline

Agama Instrumental

×

Agama Instrumental

Sebarkan artikel ini
Gus Bahar Halim Mahfudz / Foto : Dok.Pribadi.

KaMedia – Islam hadir ke muka bumi sebagai risalah yang sangat inklusif, membebaskan, dan melapangkan dada. Ia meruntuhkan sekat-sekat feodalisme, garis keturunan, status ekonomi, serta berbagai strata sosial yang sekian lama mengungkung kebebasan peradaban manusia. Tolok ukur kemuliaan seorang insan di hadapan Sang Pencipta bukanlah berlimpahnya harta, tingginya jabatan, ataupun keanggotaan dalam kelompok tertentu, melainkan murni dari kualitas ketakwaannya. Siapa pun yang bersyahadat dan menjalankan rukun-rukunnya secara konsisten adalah saudara seiman yang wajib dihormati serta dilindungi kehormatannya.

​Namun, realitas kontemporer hari ini justru menghadirkan ironi yang mengiris hati nurani. Di tengah maraknya syiar keagamaan yang kian masif dan canggih, muncul gejala eksklusivitas serta penggolongan tajam yang secara tegas diharamkan oleh Allah SWT. Jauh lebih memprihatinkan lagi, segregasi ini kerap dimotori oleh oknum-oknum yang selama ini dianggap dan diandalkan sebagai tokoh atau ulama penuntun moral umat. Alasan materi, perebutan pengaruh politik, dan syahwat kekuasaan telah mereduksi kesucian ajaran agama menjadi sekadar komoditas transaksional yang dangkal. Keagungan nilai-nilai keimanan seolah-olah luruh begitu saja di hadapan pragmatisme duniawi yang sangat sempit dan sementara.

​Membalik Posisi: Manusia Mendikte Agama

​Akar dari krisis moral keagamaan yang melanda masyarakat hari ini sebenarnya bermuara pada satu kesalahan mendasar yang bersifat epistemologis, yakni upaya merasionalisasi agama demi memenuhi kepentingan praktis. Pola pikir yang berkembang dalam masyarakat modern telah terbalik secara fatal. Seharusnya, manusia sebagai hamba yang diciptakan tunduk mengenali keterbatasan logika serta patuh terhadap ketetapan Allah SWT. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya: manusia dengan lancang memperalat dalil-dalil suci untuk melayani kebutuhan ambisi pribadi maupun kepentingan kelompoknya.

​Dalam bangunan epistemologi Islam yang lurus, akal manusia diciptakan untuk memahami, merenungkan, dan menundukkan diri di hadapan hikmah Ilahi secara utuh. Posisi akal bukanlah untuk menyetir, menawar, apalagi membengkokkan makna wahyu agar sesuai dengan selera zaman atau dorongan hawa nafsu semata. Hari ini, kita menyaksikan fenomena instrumentalisasi teks yang sangat masif, di mana ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis dicomot secara parsial hanya untuk mencocok-cocokkan narasi kelompok, membenarkan tindakan politik, atau mempertahankan legitimasi kekuasaan.

​Ketika logika beragama dibalik dan manusia merasa berhak mendikte agama, maka lahirlah kecerdasan retorika yang minus nurani. Banyak pihak yang amat pandai merangkai argumentasi keagamaan dan menghafal dalil, namun jiwanya sangat kering dari ketulusan spiritual yang sejati. Agama tidak lagi difungsikan sebagai kompas moral dan panduan kebenaran mutlak yang membimbing jalan hidup, melainkan direduksi menjadi alat tawar-menawar transaksional yang diobral demi mempertahankan zona nyaman duniawi.

​Pola beragama yang instrumental seperti ini perlahan-lahan mencabut ruh utama ajaran Islam. Kebenaran tidak lagi dicari dengan kerendahan hati, melainkan dikonstruksi secara sepihak untuk memukul lawan bicara dan mengagungkan kelompok sendiri. Akibatnya, masjid dan ruang-ruang kajian yang seharusnya menjadi oase ketenangan serta tempat pemersatu umat, kerap berubah menjadi arena kontestasi pengaruh yang memancarkan aroma kesombongan intelektual dan keangkuhan spiritual.

​Ancaman Nyata: Ketika Hati dan Nurani Tertutup

​Peringatan Allah SWT terhadap fenomena penghambaan yang berlandaskan kepentingan bukanlah sekadar ancaman kosong belaka. Al-Qur’an dan Hadis Qudsi telah memberikan gambaran yang sangat terang benderang mengenai konsekuensi fatal bagi mereka yang mempermainkan agama demi keuntungan sesaat. Salah satu teguran yang paling menggetarkan jiwa terekam jelas dalam Al-Qur’an: Khatamallahu ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim—bahwa Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran orang-orang yang terus-menerus berpaling dari nurani kebenaran.

​Ancaman tertutupnya pintu batin ini bukanlah bentuk ketidakadilan Ilahi, melainkan konsekuensi logis dari sebuah proses panjang pengkhianatan spiritual yang dilakukan secara sadar. Ketika seseorang terbiasa memutarbalikkan makna dalil demi melayani ambisi jabatan, popularitas, atau materi, ia sebenarnya sedang membangun tembok tebal yang mengisolasi jiwanya sendiri dari cahaya petunjuk. Akibatnya sangat fatal: kebenaran sejati yang benderang sekalipun tidak akan lagi mampu menembus nalar dan kepekaan jiwanya.

​Inilah bentuk istidraj yang paling berbahaya dalam kehidupan beragama. Pelakunya merasa tetap berada di jalan yang benar, merasa sukses membela agama, dan bangga atas pengaruh yang dimilikinya di tengah masyarakat. Padahal pada hakikatnya, batin mereka sedang mengalami keretakan dan kehancuran total akibat terjebak dalam penghambaan kepada berhala-berhala modern yang bernama kepentingan, kedudukan, dan materi duniawi.

​Mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang murni niat lillah dan mana yang merupakan dorongan nafsu terselubung. Kepekaan sosial untuk merangkul sesama manusia tanpa memandang strata sosial pun luntur, digantikan oleh kalkulasi untung-rugi yang dingin dan transaksional. Ketika otoritas keagamaan telah kehilangan independensi moralnya akibat terseret arus pragmatisme, masyarakat awam pun ikut kehilangan pegangan dan mengalami disorientasi nilai.

​Memulihkan kebingungan umat dari krisis keberagamaan ini menuntut kejujuran intelektual dan keberanian moral tingkat tinggi. Kita harus berani mengembalikan fungsi agama sebagai penuntun kehidupan, bukan sebagai alat legitimasi syahwat politik apalagi ekonomi. Umat Islam perlu diajak untuk melepaskan diri dari belenggu kabilah modern yang memecah belah dan kembali mendudukkan diri secara tulus sebagai hamba yang tunduk sepenuhnya di hadapan kebenaran Allah SWT.

​Hanya dengan merawat kemurnian tauhid, membersihkan niat dari pretensi duniawi, serta menegakkan persaudaraan yang inklusif tanpa sekat strata sosial, marwah keimanan yang agung dapat dirasakan kembali sebagai rahmat bagi semesta alam. Tanpa kesadaran untuk mengoreksi posisi diri di hadapan Sang Pencipta, kita hanya akan terus terjebak dalam krisis moral yang berkepanjangan, di mana simbol-simbol agama tetap riuh dirayakan, namun ruh dan nilai-nilai luhurnya telah lama sirna dari dalam dada.

Penulis : Gus Bahar Halim Mahfudz