KaMedia – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam waktu berdekatan, gempa bermagnitudo di atas 6 juga terjadi di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah. Fenomena ini memicu perhatian terhadap potensi gempa susulan dalam beberapa hari hingga dua pekan ke depan.
Pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kadek Hendrawan Palgunadi ST MSc PhD mengingatkan masyarakat, relawan, serta tim evakuasi dan asesmen bangunan untuk tetap waspada. Menurut peneliti Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS tersebut, kondisi tektonik Indonesia memang memungkinkan terjadinya gempa secara beruntun.
Indonesia berada di kawasan tektonik yang kompleks dan dilintasi berbagai sesar aktif. Posisi di jalur Ring of Fire membuat aktivitas gempa menjadi bagian dari dinamika alam di Tanah Air. Meski demikian, kemunculan sejumlah gempa dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan bahwa semuanya saling berkaitan.
” Gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” paparnya.
Menanggapi rangkaian gempa terkini, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS itu menjelaskan bahwa gempa di NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah berasal dari entitas tektonik serta sesar yang berbeda. Berdasarkan analisis awal, kemungkinan ketiganya saling berkaitan dinilai sangat kecil.
” Gempa secara beruntun umumnya terpicu apabila bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari 8,” terangnya.
Khusus gempa di NTT, Kadek menjelaskan bahwa kawasan daratan Flores hingga bagian utara Bali dilintasi Flores Back-Arc Thrust. Sesar aktif tersebut pernah memicu gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 1992, dengan kekuatan yang serupa dengan gempa terbaru.
Seismolog-seismolog Indonesia sudah mengekspektasikan bahwa sesar tersebut bisa menghasilkan magnitudo maksimal mencapai 7,8,” urai alumnus doktoral Geosains dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Arab Saudi, tersebut.
Pasca gempa utama, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Kadek mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gempa susulan atau aftershock. Gempa lanjutan ini terjadi akibat proses penyesuaian pada sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama.
Meski demikian, kekuatan aftershock secara umum akan menurun seiring waktu.
” Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo 6,” beber lelaki asal Bali kelahiran 1993 tersebut.
Karena itu, Kadek mengimbau masyarakat terdampak, relawan, tim evakuasi, serta tim asesmen bangunan untuk meningkatkan kewaspadaan setidaknya selama dua pekan ke depan.
Ia juga menekankan pentingnya asesmen fisik bangunan untuk memastikan struktur masih aman dihuni setelah diguncang gempa. Warga yang rumahnya mengalami keretakan atau kerusakan yang berpotensi membahayakan disarankan tetap berada di lokasi evakuasi yang aman hingga kondisi bangunan dinyatakan layak.
Lulusan master Geofisika dari Institute de Physique du Globe, Prancis, itu menegaskan bahwa kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban dan kerusakan akibat gempa susulan.
Melalui penguatan edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, ITS turut berkomitmen mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui edukasi mitigasi risiko untuk mendorong terbentuknya permukiman yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman gempa bumi.











