EkonomiHeadlineNasional

Dari Limbah Kelapa Hingga Perahu Listrik, Cara PLN Nusantara Power Menghidupkan Sungai Maron

×

Dari Limbah Kelapa Hingga Perahu Listrik, Cara PLN Nusantara Power Menghidupkan Sungai Maron

Sebarkan artikel ini
Senior Manager PLN Nusantara Power UP Pacitan Munif menjelaskan tentang perjalanan PLN Nusantara Power dalam menata Sungai Maron hingga menjadi dan berkembang seperti saat ini / Foto : Hermawan.

KaMedia – Air Sungai Maron mengalir tenang di antara pepohonan kelapa dan tebing-tebing karst. Perahu wisata bergerak perlahan membelah permukaan air yang jernih, membawa wisatawan menikmati salah satu lanskap alam yang menjadi kebanggaan Pacitan, Jawa Timur.

Namun, di balik panorama itu, Sungai Maron menyimpan cerita lain: tentang masyarakat yang perlahan menemukan sumber penghidupan di kampung sendiri, limbah kelapa yang diubah menjadi material konservasi, hingga energi bersih yang mulai menggantikan bahan bakar fosil.

Cerita itulah yang hendak ditunjukkan PLN Nusantara Power (PLN NP) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di kawasan Sungai Maron.

Momentum Hari Sungai Sedunia 2026 menjadi kesempatan bagi PLN NP untuk memperlihatkan perjalanan tersebut melalui kegiatan Energi untuk Sungai, yang digelar bertepatan dengan HUT ke-31 PLN Nusantara Power, Rabu (30/9/2026).

Bagi PLN NP, pengembangan Sungai Maron bukan semata membangun fasilitas wisata. Program tersebut dirancang untuk mempertemukan empat kepentingan sekaligus: konservasi lingkungan, pariwisata, ekonomi sirkular, dan energi bersih.

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan, ketika pertama kali masuk pada 2023, pihaknya tidak ingin sekadar menghadirkan fasilitas baru bagi kawasan wisata tersebut.

” Pada 2023 awal, PLN NP tidak hanya hadir dengan fasilitas, tetapi membangun fundamental dengan potensi yang dimiliki masyarakat sendiri,” kata Ruly.

Kalimat itu menjadi kunci bagaimana program di Sungai Maron dibangun. Masyarakat bukan ditempatkan sebagai penerima manfaat semata, melainkan sebagai pelaku utama yang nantinya mampu mengelola kawasan wisata secara mandiri.

Perjalanan tersebut dimulai secara bertahap.Pada 2023, sebanyak 93 joki perahu mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola aktivitas wisata susur sungai. Setahun berikutnya, program diperluas melalui peningkatan kapasitas masyarakat, keselamatan wisata, penghijauan, kesiapsiagaan bencana, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan UMKM.

Memasuki 2025, PLN NP memperkuat program SUMANTRI BERSERI, Sungai Maron Lestari, Bersih, dan Berdikari. Konsepnya mulai bergeser lebih jauh dari sekadar pengembangan destinasi wisata menuju ekosistem wisata hijau.

Konservasi, energi bersih, pengelolaan sampah, pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), serta pemberdayaan ekonomi masyarakat mulai dirangkai menjadi satu kesatuan.

Pada 2026, program tersebut berkembang menjadi SUMANTRI BERANI, Sungai Maron Lestari, Berdaya, dan Adaptif. Salah satu inovasi yang paling menarik justru datang dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah, sabut kelapa.

Limbah kelapa yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan kini diolah menjadi cocofiber, cocopeat, dan coirlog. Material tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membantu konservasi kawasan sempadan sungai.

Dengan pendekatan itu, persoalan limbah tidak berhenti sebagai persoalan yang harus dibuang. Limbah diubah menjadi material yang kembali digunakan untuk menjaga lingkungan.

Transformasi Sungai Maron juga menyentuh sektor energi. Perahu wisata yang sebelumnya menggunakan bahan bakar fosil mulai dialihkan menggunakan energi listrik. Penggunaan perahu listrik diperkirakan mampu menurunkan emisi sekitar 2,71 ton CO2 per tahun, sekaligus menghemat sekitar 1.600 liter bahan bakar per tahun.

Penghematan tersebut bukan sekadar angka lingkungan. Bagi masyarakat pengelola wisata, pengurangan konsumsi bahan bakar juga berarti berkurangnya biaya operasional.

Ekosistem energi bersih kemudian diperluas melalui pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) berbasis tenaga surya.

PLN NP juga mengembangkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari Early Warning System banjir, TPS3R, hingga digitalisasi wisata. Di sisi lain, prinsip ekonomi sirkular diterapkan melalui pemanfaatan FABA dari PLTU Pacitan

Sekitar 750 meter jalan akses wisata dibangun menggunakan paving berbasis FABA. Sisa hasil pembangkitan yang sebelumnya dipandang sebagai residu dimanfaatkan kembali menjadi material yang memiliki nilai guna bagi kawasan wisata.

Perubahan Sungai Maron mendapatkan perhatian dari Kementerian Lingkungan Hidup. Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air (PPMA) Kementerian Lingkungan Hidup Tulus Laksono mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas wisata tidak boleh membuat kualitas sungai terabaikan.

Menurut dia, Sungai Maron memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai arena olahraga air sekaligus destinasi wisata. Namun, potensi tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan kualitas air dan ekosistem sungai.

” Tema Hari Sungai tahun ini adalah ‘No Forest, No River, No Water, No Life’,” ujar Tulus.

Tema tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa hutan, sungai, air, dan kehidupan merupakan satu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan.

Karena itu, Tulus mendorong perusahaan yang kegiatan sebelumnya berdampak terhadap lingkungan sungai untuk melakukan perbaikan secara sukarela.

“Bila tindakan perbaikan tidak berjalan, maka akan ada sanksi sesuai ketentuan,” ujarnya.

Bagi Sungai Maron, pesan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya aktivitas wisata. Sungai yang semakin ramai dikunjungi justru membutuhkan pengelolaan yang semakin hati-hati

Tulus melihat perkembangan di Maron sebagai contoh bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan ekonomi sirkular, energi bersih, pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, sisi positif penataan Sungai Maron oleh PLN Nusantara Power mulai terlihat. Senior Manager PLN Nusantara Power UP Pacitan Munif mencatat kunjungan wisata ke Sungai Maron meningkat dari sekitar 71 ribu wisatawan pada 2023 menjadi sekitar 91 ribu kunjungan pada 2026.

Pertumbuhan tersebut ikut membuka ruang bagi munculnya produk-produk baru dan UMKM baru. Sekitar 116 kepala keluarga terlibat dan mendapatkan manfaat dari aktivitas pengembangan wisata.

“Kalau kita hitung per bulan, penghasilan sudah mencapai sekitar Rp3 juta lebih untuk setiap keluarga, yang artinya sudah di atas UMR,” kata Munif.

Namun, bagi PLN NP, bertambahnya wisatawan sekaligus menghadirkan tantangan baru.

“Yang menjadi concern kami adalah bagaimana dengan peningkatan kunjungan wisata itu kita tetap mampu memastikan kelestarian di Sungai Maron,” ujarnya.

Di titik inilah keberhasilan pengembangan wisata tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang atau berapa besar pendapatan yang dihasilkan.

Di tengah seluruh pembangunan fisik dan inovasi teknologi itu, PLN NP juga mencoba menanam sesuatu yang hasilnya tidak bisa langsung dihitung dalam rupiah.

Melalui program Generasi Hijau, anak-anak diperkenalkan dengan sungai dan lingkungan sejak dini.

Ruly menyebut edukasi tersebut sebagai investasi jangka panjang. Menurut dia, kepedulian terhadap Sungai Maron perlu ditanamkan sejak sekarang agar tetap hidup hingga dua atau tiga dekade mendatang.

Sebab, menjaga sungai bukan pekerjaan satu perusahaan, satu pemerintah daerah, atau satu generasi.

Pada kegiatan Energi untuk Sungai 2026, PLN NP bersama pemerintah, masyarakat, komunitas, dan karyawan yang tergabung dalam River Volunteer melakukan penanaman 310 bibit pohon, penanaman 10.000 akar wangi, pemasangan 3.100 meter coir rope berbahan sabut kelapa, serta pelepasan 3.100 bibit ikan sidat.

Semua kegiatan itu pada akhirnya kembali kepada satu tujuan, menjaga agar Sungai Maron tetap menjadi sumber kehidupan ketika kawasan tersebut semakin berkembang sebagai destinasi wisata

Perjalan dan pengembangan Sungai Maron oleh PLN NP kini dapat dirasakan. Bahkan hingga menjadi tujuan daerah lain untuk study banding. PLN NP juga telah menyusun roadmap pengembangan hingga 2027, mulai dari tahap perintisan, peningkatan kapasitas, penguatan pariwisata hijau, keberlanjutan, hingga kemandirian masyarakat.

Ruly menegaskan bahwa melalui SUMANTRI BERANI, masyarakat Sumber Maron mulai mengalami perubahan, termasuk dalam melihat persoalan limbah.

” Melalui program SUMANTRI BERANI, masyarakat Sumber Maron mengalami perubahan, termasuk limbah kelapa yang sebelumnya menjadi persoalan kini sudah dapat diolah,” ujarnya.

Sungai Maron, sabut kelapa yang dulu dianggap limbah dapat kembali menjadi bagian dari konservasi. Sisa pembakaran pembangkit dimanfaatkan untuk infrastruktur. Energi surya mengisi fasilitas kendaraan listrik. Perahu listrik mengurangi konsumsi bahan bakar. Wisata membuka lapangan ekonomi. Dan masyarakat yang dahulu merantau mulai menemukan penghidupan di kampung halaman.

Pada akhirnya, kisah Sungai Maron bukan hanya tentang bagaimana sebuah sungai menjadi destinasi wisata.

Ini adalah cerita tentang bagaimana sungai, energi, lingkungan, dan ekonomi masyarakat dapat dirajut menjadi satu ekosistem.

Dan selama airnya tetap mengalir jernih, tantangan terbesar berikutnya bukan lagi bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, melainkan bagaimana memastikan Sungai Maron tetap hidup ketika kehidupan di sekitarnya terus berkembang.