KaMedia -;Siapa sangka, hidangan sederhana yang akrab menemani sarapan masyarakat Jawa Timur kini berdiri sejajar dengan kuliner-kuliner kelas dunia. Pecel, makanan tradisional yang identik dengan sayuran rebus dan sambal kacang, berhasil menembus tujuh besar daftar 100 Best Salads in the World 2026 versi TasteAtlas.
Prestasi itu bukan sekadar angka. Pecel bahkan berada di atas sejumlah hidangan internasional yang sudah lebih dulu mendunia, termasuk som tam dari Thailand yang selama ini dikenal sebagai salah satu salad paling populer di Asia. Bagi masyarakat Jawa Timur, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus pengakuan dunia terhadap kekayaan kuliner Nusantara.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut kabar tersebut dengan penuh rasa syukur. Menurutnya, pecel bukan hanya soal makanan, tetapi juga cerminan budaya, filosofi hidup, dan kearifan lokal masyarakat Jawa Timur.
“Pecel bukan hanya makanan tradisional, tetapi identitas budaya masyarakat Jawa Timur. Dari sepincuk pecel, dunia bisa melihat bagaimana masyarakat Jawa hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan bahan-bahan lokal yang sehat, sederhana, namun kaya rasa,” ujarnya.
Keistimewaan pecel memang terletak pada kesederhanaannya. Sepiring nasi hangat dipadukan dengan aneka sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge, dan daun singkong, lalu disiram sambal kacang yang kaya rempah. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan cita rasa yang kompleks dan khas.
Menariknya, setiap daerah di Jawa Timur memiliki versi pecel yang berbeda. Di Madiun, pecel hadir dengan sambal kacang kental beraroma daun jeruk dan disajikan menggunakan pincuk daun pisang lengkap dengan peyek renyah. Kediri memiliki Pecel Tumpang dengan kuah tempe fermentasi yang gurih dan kaya rempah.
Sementara itu, Surabaya terkenal dengan Pecel Semanggi yang menggunakan daun semanggi dan bumbu kacang bercampur petis. Di Tulungagung, pecel berpadu dengan punten berbahan beras dan santan. Banyuwangi pun memiliki kekhasan melalui Pecel Rawon serta Pecel Pitik, kuliner warisan masyarakat Osing yang sarat cita rasa rempah.
Keberagaman inilah yang membuat pecel tidak sekadar menjadi makanan, melainkan sebuah perjalanan budaya yang dapat ditemukan di hampir seluruh penjuru Jawa Timur. Setiap suapan membawa cerita tentang tradisi, sejarah, dan karakter masyarakat setempat.
Bagi Khofifah, masuknya pecel ke jajaran salad terbaik dunia menjadi momentum penting untuk memperkenalkan lebih luas kekayaan kuliner Jawa Timur ke pasar global. Ia berharap capaian ini juga mampu membangkitkan kebanggaan generasi muda terhadap makanan tradisional Indonesia.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner internasional, pecel membuktikan bahwa warisan leluhur tetap mampu bersaing di panggung dunia. Dari warung sederhana di sudut kampung hingga daftar kuliner terbaik dunia, perjalanan pecel menjadi bukti bahwa cita rasa Nusantara tidak pernah kehilangan pesonanya.
Kini, dunia mengenal pecel bukan hanya sebagai makanan rakyat, melainkan sebagai simbol kekayaan budaya Indonesia yang mendunia lahir dari kesederhanaan, tumbuh dari tradisi, dan diakui oleh dunia.











