KaMedia – Momentum Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke 79 tahun ini ada yang berbeda. Kehadiran tokoh nasional yang juga akademisi Rocky Gerung dalam Rapat Paripurna DPRD Jatim ( Sabtu, 12/10/2024 ) untuk memberikan ceramah membuag semua mata terbelalak.
Mengenakan udeng khas Jawa Timur, tidak membuat Rocky Gerung berubah. Gaya khas dengan menampilkan kritis pedas tetap mendominasi isi ceramah Rocky Gerung. Dihadapan Penjabat (Pj) Gubernur Adhy Karyono serta pejabat Jatim lainnya, Rocky selain memberi masukan juga banyak menghujani kritik pedas. Mulai dari kemiskinan, stunting, hingga angka korupsi yang tinggi.
“Jadi beban Jatim adalah mengatasi problem kemiskinan di Indonesia. Stunting di Indonesia itu masih 21-22%, Jatim harus turunkan itu supaya angka nasional turun. Kan kita punya janji untuk SDGs (Sustainable Development Goals) bahwa stunting itu harus 15%,” ujar Rocky.
“Jadi kalau Pak Jokowi masih gagal, Jatim mesti back-up itu. Jatim mesti mengambil alih keputusan untuk menaikkan kondisi kesehatan ibu dan anak. Nah kita mulai dari situ sebenarnya,” lanjutnya.
Dia juga menegaskan, ulang tahun ke-79 Jatim, artinya ulang tahun untuk mengingat perjuangan Bung Tomo atau perjuangan Ir Djuanda yang membela hak-hak rakyat.
“Kesempatan merayakan ultah artinya remember the past untuk politics of hope. Di belakang kita ada politics of memory,” ujarnya.
“Kita tahu bahwa Jatim menghasilkan separuh dari pendapatan nasional kita, tetapi kita juga harus tahu bahwa Jatim angka korupsinya juga tinggi. Kita ingin hentikan itu ke depan.”
Apalagi ada sekitar 700 universitas di Jatim, artinya ada surplus pikiran. Kalau Jatim berhenti dengan kegiatan akademisi, maka IQ nasional turun. Sebab kalau dihitung dari 700 universitas tersebut ada puluhan ribu mahasiswa yang potensial menghasilkan bonus demografi.
Tapi bonus demografi hanya disebut bonus kalau membandingkan dengan kegiatan yang sama di Singapura, Thailand, Taiwan, atau Vietnam.
Dan terlihat, misalnya dibandingkan dengan Malaysia, angka pendapatan per kapita dari Malaysia yakni 13 ribu dolar AS per orang dan Indonesia masih 4.500. Artinya Indonesia kalah di dalam pendapatan per kapita.
“Dengan kata lain, bonus demogafi di 2045 yang akan menikmati bonusnya adalah anak-anak muda Kuala Lumpur, bukan anak-anak muda Surabaya. Karena kebutuhan industri Surabaya akan diisi anak-anak muda Kuala Lumpur, start up, new energy, circular economy, green politics,” papar Rocky.
Jadi, ucap Rocky, prinsip yang harus disamakan adalah memetakan problem Jatim berdasarkan perspektif perempuan yang merupakan sinonim dari keadilan. Tumbuhkan harapan, bahwa rahim perempuan akan mengawal penghitungan APBD.
“Pastikan bahwa kesehatan, stunting, kesejahteraan diatur dalam APBD untuk kepentingan keluarga-keluarga miskin,” pungkas Rocky Gerung











