KaMedia – Di tengah riuh Alun-Alun Sidoarjo, Selasa (13/5), ratusan pelajar SMAN 1 Porong bergerak selaras. Langkah kaki mereka menghentak pelan, tangan terayun lembut, membentuk harmoni yang sarat makna. Di depan Monumen Jayandaru, sebuah kisah lama tentang luka Porong kembali dihidupkan, bukan lewat tangis, melainkan melalui gerak tari yang penuh semangat.
Sebuah karya seni yang lahir dari peristiwa besar yang pernah mengguncang Sidoarjo: semburan Lumpur Lapindo. Nama “Siring” diambil dari Dusun Siring, salah satu wilayah yang tenggelam akibat semburan lumpur hampir dua dekade silam.
Bagi sebagian orang, Lumpur Lapindo mungkin hanya catatan bencana. Namun bagi para siswa SMAN 1 Porong, peristiwa itu menjadi ruang refleksi, sumber inspirasi, sekaligus pengingat bahwa sejarah daerah tak boleh hilang ditelan waktu.
Selama kurang lebih satu bulan, para siswa berlatih dengan penuh kesungguhan untuk menampilkan Tari Siring secara kolosal. Bukan sekadar pertunjukan seni, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan karakter siswa menjelang kelulusan sekolah sekaligus upaya mengenalkan kembali identitas budaya lokal kepada masyarakat.
Humas SMAN 1 Porong, Ruli menjelaskan, gelar karya yang ditampilkan di Alun-Alun Sidoarjo itu bukan agenda seremonial peringatan semburan Lumpur Lapindo yang biasa diperingati setiap 29 Mei. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kokurikuler siswa yang bertepatan dengan momentum kelulusan sekolah.
“Tari Siring ini sebenarnya bagian dari kegiatan kokurikuler dalam kurikulum. Kami selalu menampilkan seni ini secara terus menerus. Apalagi Tari Siring ini sudah mendapatkan Hak Cipta sehingga kami akan terus mengeksplor sebagai bentuk kepedulian kami terhadap Sidoarjo yang kaya budaya,” ujar Ruli.
Keseriusan sekolah dalam mengembangkan Tari Siring memang tidak main-main. Gerak tari yang terinspirasi dari dinamika lumpur, perjuangan masyarakat, hingga semangat bangkit warga Porong kini telah resmi memperoleh Hak Karya Cipta.
Bagi para siswa, Tari Siring bukan hanya tentang estetika gerak. Di balik setiap langkah dan formasi, ada pesan tentang keteguhan, kehilangan, dan harapan yang terus hidup di tanah Porong.
Di bawah langit sore Sidoarjo, para pelajar itu seolah ingin menyampaikan satu hal: bahwa dari tragedi pun, sebuah karya bisa lahir. Dan melalui seni, ingatan tentang kampung yang pernah tenggelam akan terus hidup, menari dalam setiap generasi.











