HeadlineKesehatanSidoarjo

Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Disorot, Menteri PPPA: Selera Anak Jangan Diabaikan

×

Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Disorot, Menteri PPPA: Selera Anak Jangan Diabaikan

Sebarkan artikel ini
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi meninjau kondisi anak-anak yang menjalani perawatan di RSUD Notopuro Sidoarjo / Foto : Fifin Jun.

KaMedia – Kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) turun langsung meninjau kondisi anak-anak yang menjalani perawatan di RSUD Notopuro Sidoarjo, Jumat (5/9).

Di tengah kasus yang menimpa para penerima manfaat, Arifa menekankan satu hal yang tak kalah penting: makanan bergizi tidak cukup hanya sehat di atas kertas, tetapi juga harus sesuai dengan selera anak.

Menurutnya, anak-anak umumnya lebih menyukai makanan yang dianggap lebih menarik atau “best food”. Karena itu, pemenuhan gizi harus berjalan beriringan dengan pendekatan yang mampu membuat anak mau mengonsumsi makanan tersebut.

” Biasanya anak-anak maunya makanan-makanan yang best food gitu ya. Tapi kita edukasi bahwa makanan yang dimakan adalah makanan yang bergizi.” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa program MBG tidak boleh berhenti pada persoalan makanan dibagikan dan angka kecukupan gizi terpenuhi. Ada faktor rasa, selera, penerimaan anak, hingga keamanan makanan yang harus menjadi perhatian serius.

Sebab, ketika makanan justru berujung pada dugaan keracunan, pertanyaan yang muncul bukan sekadar apakah menu tersebut bergizi, tetapi juga seberapa ketat makanan dipastikan aman sebelum sampai ke tangan anak-anak.

Selain kondisi fisik, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap kondisi psikologis para korban. Arifa mengatakan tidak semua anak mengalami trauma dengan tingkat yang sama sehingga pendampingan akan diberikan sesuai kebutuhan.

” Dari kasus ini mungkin yang akan kita lakukan adalah pendampingan bila dibutuhkan. Karena ini ada anak-anak yang mengalami trauma, ada juga yang tidak” paparnya.

Pemerintah akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pondok pesantren untuk memastikan proses pemulihan berjalan. Pendekatan trauma healing dari pihak pesantren dinilai dapat menjadi salah satu pilihan pendampingan. Namun jika belum mencukupi, pemerintah menyatakan siap turun tangan.

“Seandainya masih membutuhkan, kami siap untuk berkolaborasi agar anak-anak ini siap kembali untuk ke sekolah.” pungkas Menteri PPPA.