EkonomiGaya HidupHeadlineSidoarjo

Bisnis Lendir “Tol Pedhot” Jabon Digerebek, Terbongkar ! Sewa Lahan ke Kades Rp 8 Juta Per Tahun

×

Bisnis Lendir “Tol Pedhot” Jabon Digerebek, Terbongkar ! Sewa Lahan ke Kades Rp 8 Juta Per Tahun

Sebarkan artikel ini
Penertiban warkop prostitusi di kawasan Jabon diduga bocor. Dari 25 warkop, petugas gabungan hanya mengamankan 2 warkop. yang menjual miras dan membuka praktek prostitusi / Foto : Fifin Jun.

KaMedia – Ada yang tak biasa di ruas jalan eks tol Hutama Karya (HK) yang terputus akibat bencana Lumpur Lapindo pada Sabtu malam (5/7/2026). Kawasan yang kondang dengan julukan ngeri-ngeri sedap, “Tol Pedhot”, mendadak sepi senyap. Bukan karena sepi peminat, melainkan karena aroma kedatangan petugas tampaknya sudah tercium lebih dulu.

​Kawasan remang-remang yang biasanya marak dengan dentuman musik karaoke dan transaksi syahwat terselubung ini mendadak tiarap saat Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama jajaran Satpol PP dan anggota DPRD Sidoarjo.

​”Ini pasti bocor! Banyak yang tutup ketika kita sidak,” gusar Wabup Mimik Idayana dengan nada kecewa, menyaksikan deretan warung kopi (warkop) yang mendadak gembok pintu.

​Dari sekitar 25 titik warkop “plus-plus” yang tersebar di tiga desa di kawasan tersebut, sebagian besar berhasil lolos dari sergapan. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, dua warkop ini bernasib apes. Warkop Wardah Music dan Warkop Nopret2 yang berlokasi di Desa Jemirahan, Kecamatan Jabon, terjebak dalam siasat mereka sendiri.

​Mencoba mengelabui petugas dengan menutup rapat pintu utama, mereka lupa mematikan lampu dalam dan menyembunyikan motor yang terparkir di luar.

​Petugas yang tak mau terkecoh langsung melakukan tindakan tegas dengan membuka paksa pintu warkop. Benar saja, di dalam bilik-bilik sempit bernuansa remang tersebut, petugas menemukan “surga dunia” yang tertinggal, botol-botol minuman keras (miras) yang masih utuh, serta tiga orang wanita yang gelagapan.

​Satu wanita mengaku sebagai pemilik, sementara dua lainnya diduga kuat merupakan pemandu lagu (LC) sekaligus penyedia layanan pemuas nafsu birahi yang kedapatan bersembunyi di dalam kamar.

​Kejutan terbesar malam itu bukan hanya soal tertangkapnya para pemandu lagu, melainkan pengakuan blak-blakan sang pemilik warkop yang langsung mencoreng wajah birokrasi tingkat desa.

​Tanpa tedeng aling-aling, pemilik warkop mengaku bahwa bisnis lendir yang ia jalankan berdiri di atas lahan milik Kepala Desa Jemirahan.

​”Iya saya bayar ke pak kades, Bu Wabup,” akunya polos di hadapan Mimik Idayana, sembari menyodorkan selembar kwitansi sewa lahan senilai Rp 8 juta per tahun yang sudah berjalan selama dua tahun.

​Ironisnya, pemilik warkop esek-esek yang enggan disebut namanya ini ternyata bukan warga kelas bawah yang terhimpit ekonomi. Ia diketahui merupakan warga Pondok Mutiara, sebuah kawasan perumahan elit di jantung Sidoarjo Kota. Seorang borjuis kota yang menangguk untung dari bisnis maksiat di pucuk selatan desa.

​Geram dengan temuan tersebut, Wakil Bupati Sidoarjo langsung mengambil tindakan represif. Malam itu juga, dua warkop plus-plus tersebut resmi disegel. Namun, Mimik Idayana memastikan langkah ini tidak berhenti di atas kertas segel saja.

​”Saya perintahkan Satpol PP untuk membongkar warkop yang berhasil disegel, dan warkop-warkop lainnya yang ada kegiatan prostitusinya,” tegas Mimik.

​Meski demikian, Pemkab Sidoarjo tetap memberikan ruang bagi geliat ekonomi warga kecil. Sesuai dengan rekomendasi DPRD, penertiban ini dipastikan tebang pilih demi keadilan.

​”Warkop yang murni menjual kopi seduhan, silakan tetap buka untuk mencari penghasilan bagi ekonomi keluarganya,” pungkas Wabup.

​Kini, bola panas ada di tangan aparat penegak perda. Akankah “Tol Pedhot” benar-benar bersih dari praktik prostitusi, ataukah penertiban ini hanya akan menjadi angin lalu sebelum lokalisasi terselubung itu kembali beroperasi di bawah tangan?