KaMedia – Pelayanan kesehatan warga di tingkat akar rumput kembali menjadi sorotan. Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Posyandu Keluarga (Posga) RW 3 Kelurahan Wiyung, Kecamatan Wiyung, pada Rabu (1/7).
Sidak ini sengaja digelar untuk memotret langsung realita pelayanan kesehatan sekaligus menyerap “curhatan” warga di lapangan. Dalam kunjungan ini, legislator yang akrab disapa Bang Jo tersebut didampingi oleh jajaran Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Sekcam Wiyung, Kepala Puskesmas, Lurah, hingga pengurus RT/RW setempat.
Meski mengapresiasi jalannya pelayanan, Bang Jo menemukan kerikil tajam yang masih mengganjal hak sehat warga. Berdasarkan hasil dialog, ia mendapati keluhan klasik: banyak warga yang tidak bisa berobat menggunakan BPJS Kesehatan karena status kepesertaannya mendadak nonaktif akibat Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terblokir.
”Di lapangan kita masih temukan warga yang BPJS-nya mati karena NIK terblokir. Imbasnya, mereka kesulitan dapat layanan kesehatan. Ini masalah serius yang harus segera diintervensi,” tegas Bang Jo.
Sebagai solusi konkret, politisi ini mendesak adanya kolaborasi instan dan berkala antara Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kesehatan (Dinkes). Ia meminta agar pembaruan data kependudukan, terutama bagi warga yang datanya terblokir, dievaluasi total lewat Musyawarah Kelurahan (Muskel).
”Minimal tiga bulan sekali harus ada update data lewat Muskel. Jangan sampai urusan administratif mengorbankan hak konstitusional warga untuk sehat,” imbuhnya.
Lebih jauh, Bang Jo mengingatkan bahwa fungsi Posyandu pasca-terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2024 sudah jauh berubah. Kini, Posga tidak lagi sekadar tempat menimbang bayi atau pos lansia, melainkan pusat integrasi 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM):
Kesehatan & Perlindungan Sosial
Pendidikan & Pekerjaan Umum
Perumahan Rakyat
Ketenteraman & Ketertiban Umum
”Pelayanan Posga sekarang melingkupi seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, remaja, usia produktif, hingga lansia. Ini adalah pusat pelayanan masyarakat di tingkat kampung,” jelas Bang Jo.
Apresiasi tinggi juga diberikan Bang Jo kepada para Kader Surabaya Hebat (KSH) yang menjadi motor penggerak di RW 3 Wiyung. “Mereka ini orang-orang hebat yang menyumbang waktu dan pikiran demi warga. Bentuk pengabdian yang luar biasa,” pujinya.
Gayung bersambut, perwakilan Dinkes Kota Surabaya, dr. Chandra, meminta para kader tidak sungkan melapor jika menemui kendala birokrasi di lapangan. Sementara itu, Lurah Wiyung, Mardjuki, mengucapkan terima kasih atas perhatian parlemen terhadap warganya.
“Maturnuwun atas rawuhipun lan dukunganipun Pak Johari,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Posga RW 3 Wiyung, Firdaus Nur Fadillah, mengakui bahwa mengelola Posga dengan sasaran sekitar 1.600 warga (mulai dari balita hingga lansia) memiliki tantangan tersendiri. Salah satu layanan yang paling diminati hari itu adalah cek kadar gula darah gratis.
”Tantangan terbesar kami adalah tingkat kehadiran warga yang terbentur kesibukan kerja sehari-hari. Kami terus berupaya mendekatkan layanan ini ke pintu rumah warga agar semakin banyak yang mau memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis ini,” pungkas Firdaus.











