HeadlinePemerintahanSurabaya

Mengurai Genangan Karang Menjangan, Pemkot Surabaya Optimalkan Saluran Jalan Moestopo

×

Mengurai Genangan Karang Menjangan, Pemkot Surabaya Optimalkan Saluran Jalan Moestopo

Sebarkan artikel ini
Kemacetan terjadi disekitar Jln Prof. Dr Moestopo Surabaya, imbas dari proyek saluran air yang tengah dikerjakan Pemkot Surabaya / Foto : Diskominfo Surabaya.

KaMedia – Pemandangan padat merayap dan riuh klakson mendadak jadi makanan harian para pengguna jalan di kawasan Jalan Prof. Dr. Moestopo, Surabaya. Sejak Kamis, 25 Juni 2026, urat nadi lalu lintas di depan Kampus A Universitas Airlangga ini menyempit tajam akibat galian raksasa. Namun, di balik sengkarut kemacetan yang memicu keluhan ini, Pemerintah Kota Surabaya sedang mempertaruhkan solusi jangka panjang: sebuah proyek interkoneksi drainase radikal demi membebaskan kawasan Karang Menjangan dari kutukan banjir tahunan.

​Menyadari tingginya tensi kejengkelan publik akibat efek domino kemacetan tersebut, Pemkot Surabaya langsung melayangkan permohonan maaf terbuka. Proyek pemasangan saluran beton pracetak (box culvert) ini diklaim sebagai langkah krusial yang tidak bisa ditunda lagi demi mengamankan wilayah Surabaya Timur saat musim hujan tiba.

​”Mohon maaf sebelumnya, memang ada gangguan kenyamanan terhadap pengguna jalan, terutama di daerah Jalan Prof. Dr. Moestopo. Kami sangat memahami dampaknya, namun ini adalah jalur evakuasi air yang vital,” ujar Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita, Selasa (30/6/2026).

​Secara teknis, proyek ini bukan sekadar pengerukan parit biasa. DSDABM Kota Surabaya tengah membangun jembatan konektivitas bawah tanah. Saluran baru ini dirancang memanjang mulai dari depan Fakultas Kedokteran (FK) Unair hingga simpang lampu lalu lintas Jalan Karang Menjangan.

​Tujuannya satu, menyambungkan sirkulasi air dari pemukiman padat Karang Menjangan menuju trotoar saluran Moestopo, untuk kemudian dialirkan langsung secara masif ke Rumah Pompa Dharmahusada. Dari titik hilir tersebut, volume air bah akan dipompa dan dibuang langsung menuju Kali Jeblokan.

​Selama ini, Karang Menjangan menjadi salah satu titik paling rawan yang menyumbang genangan persisten di Surabaya akibat minimnya kapasitas tampung hulu dan tidak terkoneksinya saluran lokal ke sistem pompa utama. Aliran baru ini diharapkan menjadi ‘katup penyelamat’ yang mempercepat durasi surut air hingga hitungan menit.

​Kendati durasi keseluruhan proyek diestimasikan memakan waktu empat bulan hingga awal September 2026, Pemkot Surabaya tidak mau mengambil risiko membiarkan jalan arteri terhambat terlalu lama. Adi Gunita menegaskan bahwa pengerjaan di ruas utama Moestopo menjadi prioritas utama yang dipaksa selesai lebih awal dari jadwal reguler.

​Meski demikian, skenario percepatan ini sempat menemui kerikil tajam di awal pekan. Tim lapangan berkejaran dengan jaringan utilitas bawah tanah milik PDAM yang posisinya berhimpitan langsung dengan jalur galian. Senggolan alat berat sempat memicu kebocoran pipa air bersih, yang menuntut penanganan darurat ekstra.

​”Kemarin memang ada persinggungan dengan utilitas PDAM, sehingga perlu waktu penyesuaian khusus. Akibat gesekan itu sempat ada dampak kebocoran sedikit pada pipa, namun tim teknis langsung bergerak cepat melakukan lokalisasi dan perbaikan,” urai Adi menanggapi dinamika di lapangan.

​Guna meminimalkan mati totalnya aktivitas ekonomi kota di siang hari, taktik manajemen jam kerja pun diterapkan. Berdasarkan asistensi dari Polrestabes Surabaya dan Dinas Perhubungan (Dishub), aktivitas alat berat dan pemasangan struktur fisik beton hanya diperbolehkan beroperasi pada malam hingga subuh hari, tepatnya pukul 21.00 hingga 05.00 WIB.

​Sementara pada pagi hingga sore hari, area galian disterilisasi agar sisa lajur jalan tetap dapat dilewati kendaraan. Manajemen lalu lintas dioptimalkan melalui modifikasi durasi lampu merah (traffic light) di persimpangan terdekat, serta penyiapan personel gabungan dari Dishub dan pihak kontraktor di titik-titik penyempitan (bottleneck).

​Sebagai bentuk komitmen mengejar utang waktu pengerjaan, manajemen proyek kini menghapus istilah hari libur.

​”Hari kalender kami jalankan penuh, tidak ada libur atau tanggal merah. Semua tim dikerahkan shift demi shift agar fungsi jalan Moestopo bisa kembali normal secepat-cepatnya, dan warga Karang Menjangan bisa segera merdeka dari genangan,” pungkas Adi mantap.