KaMedia – Pemerintah Kota Surabaya terus berbenah dalam pengelolaan sampah. Kali ini, perhatian difokuskan pada perhitungan kebutuhan tongbin (bak sampah) di setiap Tempat Penampungan Sementara (TPS) agar lebih presisi dan sesuai dengan volume sampah di lapangan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa kebersihan TPS menjadi prioritas utama. Ia memastikan, setiap TPS tidak hanya bersih saat pengangkutan, tetapi juga setelah sampah dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Setiap TPS harus bersih. Setelah sampah diangkut ke TPA, langsung disiram dan diberi eco enzyme supaya tidak menimbulkan bau. Ini sudah berjalan,” ujar Eri saat melakukan inspeksi mendadak di TPS Prapen DKK.
Dalam sidak tersebut, Eri tidak sekadar mengecek kondisi kebersihan. Ia juga turun langsung menghitung kecukupan jumlah tongbin berdasarkan timbulan sampah dari wilayah sekitar, seperti Kelurahan Margorejo dan Sidosermo.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan rutinitas, tetapi harus berbasis data yang terukur. Setiap wilayah diminta menghitung jumlah produksi sampah warganya dengan acuan 0,6 kilogram per orang per hari, sesuai regulasi nasional.
“Dari situ bisa diketahui berapa total sampah per hari, lalu disesuaikan dengan kapasitas tongbin. Jadi tidak boleh ada yang kurang atau berlebih sampai meluber,” tegasnya.
Perhitungan tersebut dilakukan hingga tingkat Rukun Warga (RW), kemudian diakumulasi untuk menentukan kebutuhan tongbin di masing-masing TPS. Bahkan, Eri menambahkan koefisien cadangan sekitar 30 persen untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah.
Tak berhenti di situ, Pemkot Surabaya juga mengintegrasikan teknologi dalam pengelolaan sampah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diminta melakukan perhitungan lebih rinci, termasuk pengaturan armada truk pengangkut sampah hingga tiga shift operasional.
Menariknya, seluruh pergerakan truk kini dipantau secara real time menggunakan sistem Global Positioning System (GPS). Dengan sistem ini, pemerintah kota dapat mengetahui rute, waktu tempuh, hingga efektivitas kerja armada.
“Dengan GPS, saya bisa memantau berapa lama truk dari TPA ke TPS dan sebaliknya. Semua harus terukur,” jelasnya.
Melalui langkah ini, Eri berharap sistem pengelolaan sampah di Surabaya semakin tertata, efisien, dan mampu menjawab tantangan volume sampah kota besar. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara perencanaan yang matang dan semangat aparatur wilayah dalam menjaga kebersihan kota.











