HeadlineJatimKesehatan

Kasus Suspek Campak di Jatim Turun Tajam, Dinkes Ingatkan Warga Tak Lengah

×

Kasus Suspek Campak di Jatim Turun Tajam, Dinkes Ingatkan Warga Tak Lengah

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Erwin Astha Triyono / Foto : Ist.

KaMedia – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat penurunan signifikan kasus suspek campak sepanjang triwulan pertama 2026. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak mengendurkan upaya pencegahan.

Kepala Dinkes Jatim, Prof Erwin Astha Triyono, menegaskan tren ini merupakan sinyal positif keberhasilan intervensi kesehatan, namun belum menjadi alasan untuk lengah.

“Penurunan ini menunjukkan upaya pencegahan berjalan efektif. Tapi kewaspadaan harus tetap dijaga, terutama melalui imunisasi dan deteksi dini,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Data Dinkes mencatat, jumlah suspek campak Januari–Maret 2026 mencapai 1.161 kasus, turun hampir 44 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 2.066 kasus. Rinciannya, Januari 599 kasus, Februari 376 kasus, dan Maret 186 kasus, menunjukkan tren penurunan konsisten setiap bulan.

Hingga saat ini, belum ditemukan kasus campak terkonfirmasi maupun laporan kematian.

Campak merupakan penyakit menular akibat virus yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Gejalanya meliputi demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, ruam kulit, batuk, pilek, dan mata merah.

Penanganan dilakukan dengan isolasi serta terapi simtomatis, termasuk pemberian vitamin A dua dosis sesuai usia. Dinkes menegaskan, pencegahan tetap menjadi kunci. Masyarakat diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti konsumsi gizi seimbang, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, istirahat cukup, dan memakai masker saat sakit.

Selain itu, kelengkapan imunisasi campak-rubela bagi bayi, balita, dan anak usia sekolah harus dipastikan.

“Masyarakat segera ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala, agar penanganan cepat dan penularan bisa dicegah,” tegas Erwin.

Dinkes Jatim optimistis tren penurunan ini dapat terus berlanjut hingga akhir 2026, seiring penguatan imunisasi dan edukasi kesehatan masyarakat.