KaMedia – Puluhan ribu siswa SD dan SMP di Surabaya bersiap mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Tahun ini, pelaksanaannya terasa berbeda. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan sistem ujian berbasis komputer yang dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kondisi dan fasilitas di masing-masing sekolah.
Bagi siswa, ini bukan sekadar ujian biasa.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa TKA bukanlah penentu kelulusan. Lebih dari itu, TKA dirancang sebagai alat untuk melihat sejauh mana kemampuan akademik siswa berkembang.
“TKA ini bukan untuk menentukan lulus atau tidak, tapi untuk mengukur kemampuan siswa secara lebih menyeluruh,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Berbeda dari ujian konvensional yang serentak dalam satu hari, TKA kini dibagi menjadi beberapa gelombang dan sesi. Hal ini memungkinkan satu perangkat komputer digunakan secara bergantian oleh beberapa siswa. Menariknya, setiap sesi memiliki paket soal yang berbeda.
Tujuannya jelas, menjaga keadilan dan memastikan semua siswa mendapatkan kesempatan yang sama. Tahun ini, jumlah peserta TKA di Surabaya memang tidak sedikit. Untuk jenjang SD, ada 35.602 siswa dari 642 sekolah. Sementara di jenjang SMP, tercatat 34.381 siswa dari 321 sekolah yang akan mengikuti ujian ini.
Untuk mendukung kelancaran, TKA hadir dengan berbagai pilihan sistem, mulai dari full online hingga semi online, bahkan tersedia opsi offline untuk mengantisipasi kendala jaringan. Tidak hanya itu, siswa dengan disabilitas netra juga difasilitasi dengan teknologi screen reader agar tetap bisa mengikuti ujian dengan nyaman.
Dari sisi materi, TKA berfokus pada dua hal penting lterasi dan numerasi. Mata pelajaran yang diujikan hanya Matematika dan Bahasa Indonesia, namun dengan pendekatan yang berbeda. Soal-soal dirancang untuk mengasah logika, pemahaman, dan kemampuan memecahkan masalah, bukan sekadar hafalan.
“Yang ingin kita lihat adalah cara berpikir siswa, bukan hanya jawabannya,” jelas Febrina.
Pelaksanaan TKA untuk SMP dijadwalkan pada 6–16 April 2026, disusul jenjang SD pada 20–30 April 2026. Setiap sesi terdiri dari latihan, ujian utama, hingga survei karakter.
Sebelumnya, para siswa juga telah melalui berbagai tahapan persiapan, mulai dari pendaftaran sejak Januari, simulasi, hingga gladi ujian. Di tingkat sekolah, latihan tambahan seperti try out juga rutin dilakukan untuk membantu siswa lebih siap.
Pemkot Surabaya memastikan seluruh infrastruktur telah dipersiapkan dengan matang, mulai dari komputer, jaringan internet, hingga pasokan listrik. Koordinasi pun dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan telekomunikasi dan PLN.
Untuk menjaga integritas, sistem pengawasan juga diperketat melalui pengawas silang antar sekolah serta pemantauan terpusat. Namun di balik semua kesiapan itu, ada satu hal yang tak kalah penting: kondisi mental siswa. Sekolah diminta menciptakan suasana yang nyaman agar TKA tidak menjadi momok menakutkan.
“TKA harus dibuat menyenangkan, bukan menekan. Yang penting siswa siap dan percaya diri,” tambahnya.
Meski tidak wajib, siswa tetap didorong untuk mengikuti TKA sebagai sarana evaluasi diri. Hasilnya pun bisa menjadi bekal penting untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.
Ke depan, TKA diharapkan tidak hanya menjadi alat ukur semata, tetapi juga menjadi dasar untuk memperbaiki kualitas pembelajaran secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang lebih menekankan pada logika dan analisis, TKA 2026 diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kualitas pendidikan dan menjadi langkah awal menuju sistem belajar yang lebih baik.











