KaMedia – Siang itu di Balai Pemuda Surabaya, tepuk tangan bergema ketika nama Eri Cahyadi disebut sebagai penerima penghargaan atas komitmennya mewujudkan Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Suyudi Ario Seto, dalam agenda bertajuk “Akselerasi Asta Cita ke-7: Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba Menuju Jawa Timur Bersinar sebagai Gerbang Baru Nusantara”, Jumat (13/2/2026).
Namun bagi Surabaya, penghargaan itu bukan sekadar plakat atau seremoni. Ia adalah cerita panjang tentang kerja sunyi di kampung-kampung, sekolah-sekolah, hingga ruang-ruang rapat lintas instansi.
Wali Kota Eri yang berhalangan hadir diwakili Kepala Bakesbangpol Surabaya, Tundjung Iswandaru. Dengan nada rendah hati, ia menyebut penghargaan tersebut sebagai buah dari gotong royong warga kota.
“Ini motivasi bagi kami untuk terus memperkuat pengawasan dan edukasi di setiap sudut kota, hingga Surabaya benar-benar bersih dari penyalahgunaan narkotika,” ujarnya.
Apresiasi tak hanya berhenti di level kota. Dari akar rumput, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, meraih Juara II Kelurahan Bersih Narkoba (Bersinar) tingkat Jawa Timur. Bagi warga, capaian itu adalah simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari lingkungan terkecil, dari ronda malam yang lebih peduli, dari obrolan ibu-ibu PKK yang lebih waspada, hingga dari remaja yang berani berkata tidak.
Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, menilai Surabaya berhasil mengimplementasikan program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) secara masif. Menurutnya, keberhasilan hingga level kelurahan menunjukkan keseriusan yang nyata, terlebih Jawa Timur dipandang sebagai gerbang strategis Nusantara.
Di balik capaian itu, ada kerja terstruktur yang mungkin tak selalu terlihat. Pemkot Surabaya membentuk Tim Terpadu P4GN yang melibatkan lintas OPD, aparat, hingga organisasi masyarakat. Edukasi rutin digelar menyasar pelajar, orang tua, hingga komunitas. Bersama BNNK Surabaya dan Plato Foundation, disusun pula buku saku P4GN sebagai panduan praktis bagi keluarga.
Langkah pencegahan juga dilakukan melalui tes urine berkala demi memastikan lingkungan kerja dan pemukiman tetap steril. Di bidang pendidikan, inovasi lahir lewat SDN Wonokusumo 1/40 yang dideklarasikan sebagai sekolah “Panah Bersinar”, Prestasi, Aman, Nyaman, Agamis, Humanis, dan Bersih dari Narkoba. Di sana, pencegahan tidak hanya berupa larangan, tetapi juga pembentukan karakter dan ruang tumbuh yang sehat.
Tak kalah penting adalah upaya pemulihan kawasan yang sempat dicap rawan, seperti di Jalan Kunti, Kelurahan Sidotopo. Perlahan, pendekatan persuasif dan pendampingan sosial dilakukan agar stigma berganti harapan.
Selain Wonorejo, sejumlah kelurahan seperti Putat Jaya, Banyu Urip, Gayungan, Menanggal, Dukuh Menanggal, Ketintang, Kebonsari, Pagesangan, Gunung Sari, Balongsari, dan Sidotopo menjadi fokus penguatan sepanjang 2025.
Bagi Surabaya, penghargaan ini bukan garis akhir. Ia adalah pengingat bahwa menjaga generasi dari bahaya narkotika adalah pekerjaan panjang yang membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kebersamaan.
Di kota yang terus berbenah ini, komitmen melawan narkoba tak hanya tertulis dalam kebijakan, tetapi hidup dalam langkah-langkah kecil warganya. Sebab di balik setiap program, ada harapan sederhana: agar anak-anak Surabaya tumbuh sehat, aman, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045 tanpa bayang-bayang narkotika.











