HeadlinePolitikSurabaya

Selamat Jalan, Cak Awi…

×

Selamat Jalan, Cak Awi…

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Saya mengenal Adi Sutarwijono, yang kami panggil dengan penuh hormat dan sayang, Cak Awi sejak tahun 2000. Saat itu, jumlah wartawan di DPRD Surabaya masih bisa dihitung dengan jari. Di antara hiruk-pikuk politik yang belum seramai sekarang, ada sosok pria kurus, tinggi, dengan celana jeans ketat dan kemeja rapi dimasukkan ke dalam celananya. Wajahnya teduh.

Senyumnya ramah. Ucapannya selalu menenangkan sekaligus mencerahkan.
Di bawah pohon kamboja depan gedung DPRD Surabaya, ada sebuah kursi tua yang menjadi saksi perjalanan panjangnya. Di sanalah Cak Awi sering duduk, ditemani nasi bungkus dari Cak Mad dan segelas susu kedelai dari Cak Pri di tepi Kalimas.
Tempat itu bukan sekadar titik berkumpul, ia adalah ruang belajar, ruang diskusi, dan ruang mimpi bagi kami, para jurnalis muda.

Dari sanalah isu-isu besar lahir. Dari sanalah headline demi headline tercipta. Gedung DPRD Surabaya tak pernah sepi dari dinamika, intrik, dan konflik. Dan Cak Awi selalu tahu denyutnya. Ia tidak pernah menyimpan informasi untuk dirinya sendiri. Ia tidak ingin menjadi jurnalis eksklusif yang berdiri di menara gading. Ia memilih berbagi. Ia memilih membuka. Ia memilih menggelorakan keterbukaan informasi, jauh sebelum itu menjadi jargon yang sering diucapkan banyak orang.

Meski bernaung di media besar seperti Harian Surya ataupun Tempo, tak pernah sekalipun ia menunjukkan kesombongan. Hidupnya bersahaja. Makan nasi bungkus di trotoar, berdiskusi panjang di bawah pohon, tertawa bersama kami yang masih hijau di dunia jurnalistik. Namun di balik kesederhanaannya, pikirannya tajam. Visinya jauh ke depan.

Saat DPRD Surabaya diguncang tsunami mega korupsi yang menyeret Ketua DPRD Surabaya saat itu, Mochamad Basuki, Cak Awi tetap berdiri pada prinsipnya. Ia dekat dengan banyak tokoh PDIP Surabaya, tetapi kedekatan tak pernah membungkam nuraninya. Ia tetap kritis. Ia tetap menulis dengan keberanian yang sama. Integritasnya tak bisa ditawar.

Saya masih ingat satu sore di tangga DPRD Kota Surabaya. Kami duduk sambil mengirim berita. Angin berhembus pelan. Dengan nada setengah bercanda namun penuh keyakinan, ia berkata,

“Suk yen aku dadi Dewan, tak toto sing apik.”
(Kelak jika saya menjadi anggota dewan, akan saya tata DPRD menjadi baik).

Kami tertawa waktu itu. Tak menyangka kalimat sederhana itu adalah doa yang kelak dijawab Tuhan. Tahun 2012, ia benar-benar masuk DPRD melalui PAW. Lalu terpilih kembali pada 2014–2019, 2019–2024, hingga 2024–2029. Bahkan dua periode menduduki pucuk pimpinan. Janjinya pada sore itu bukan sekadar ucapan. Ia menjadikannya jalan hidup.

Dari bawah pohon kamboja sebagai jurnalis, hingga kursi pimpinan dewan sebagai negarawan, perjalanan itu bukan tentang jabatan. Itu tentang konsistensi. Tentang mimpi yang dijaga dengan kerja keras dan integritas.

Kini, Cak Awi telah “pulang”. Pohon kamboja itu masih berdiri. Kursi tua itu mungkin masih ada. Cak Mad dan Cak Pri mungkin masih berjualan. Tapi ada ruang yang terasa kosong. Tak ada lagi sosok kurus dengan jeans ketat yang tersenyum sambil melempar isu hangat. Tak ada lagi suara yang berkata,

“Ayo, ditulis. Jangan takut.”

Selamat jalan, Cak Awi.
Terima kasih atas bimbingan, persahabatan, dan keberanian yang kau wariskan pada kami. Namamu akan selalu hidup dalam ingatan, dalam setiap berita yang kami tulis dengan hati, dan dalam setiap idealisme yang kami perjuangkan. Rest in Peace, Dominikus Adi Sutarwijono (Cak Awi)

*) Oleh : Hermawan Priyono, Jurnalis di Surabaya.