KaMedia – Sejak subuh belum benar-benar pecah, bus-bus besar sudah bergerak dari berbagai penjuru Jawa Timur. Di dalamnya, para jamaah melafalkan shalawat, sebagian terlelap sambil memeluk tas kecil berisi bekal dan harapan. Tujuan mereka sama: Stadion Gajayana, Malang. Di sanalah, pada 7–8 Februari 2026, sejarah spiritual akan dirajut dalam Mujahadah Kubro “Satu Abad NU”.
Hingga dua hari sebelum pelaksanaan, jumlah jamaah yang terdaftar telah menembus angka 104.541 orang. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potret kerinduan, kebersamaan, dan kesetiaan warga Nahdlatul Ulama kepada jam’iyyah yang telah membersamai bangsa selama satu abad.
“Kalau dibulatkan, sekitar 105 ribu jamaah. Mereka datang dengan lebih dari 1.100 bus dan ribuan kendaraan lainnya,” ujar Sekretaris PWNU Jawa Timur, DR HM Faqih, di Surabaya, Jumat (6/2).
Lautan manusia itu datang dari berbagai latar: 77.541 orang dari PCNU se-Jawa Timur dan 27.000 jamaah Muslimat NU. Mereka terbagi dalam sembilan zona, dikawal puluhan koordinator lapangan, bergerak tertib menuju satu titik doa. Stadion Gajayana, dengan kapasitas tribun sekitar 35 ribu orang, tak mungkin menampung semuanya. Namun keterbatasan ruang tak menyempitkan semangat.
Di luar stadion, videotron-videotron besar disiapkan. Jamaah meluber hingga radius tiga kilometer, duduk bersila di trotoar, halaman, bahkan ruas-ruas jalan yang disulap menjadi ruang ibadah dadakan. Di situlah doa-doa dipanjatkan, dalam sunyi yang justru terasa khusyuk.
PWNU Jawa Timur tak berjalan sendiri. Dukungan penuh datang dari Polda Jatim, Kodam, dan Dinas Perhubungan. Semua bergerak dalam satu irama, memastikan mujahadah berlangsung aman dan tertib, sebuah gotong royong besar yang mencerminkan wajah NU itu sendiri.
Mujahadah Kubro ini bukanlah acara yang berdiri sendiri. Ia menjadi puncak dari rangkaian panjang Harlah Satu Abad NU yang sejak Januari telah menyapa berbagai lapisan warga. Dari sarasehan pesantren di Universitas Islam Malang, ziarah muassis NU, hadrah di Masjid Kemayoran Surabaya, hingga pameran lukisan nasional bertema Mangsa Kalasubo, semuanya menjadi simpul-simpul ingatan tentang perjalanan NU.
Di sisi lain, NU juga menatap masa depan. Festival NUConomic dan GenZINU di Kampung Coklat, Blitar, menjadi ruang temu antara tradisi dan inovasi. UMKM, pertanian, filantropi, hingga teknologi digital bertemu dalam satu panggung.
“Ini bentuk nyata kehadiran NU dalam kehidupan warganya, khususnya penguatan tiga pilar ekonomi dan generasi muda,” ujar Wakil Ketua PWNU Jatim, DR Hakim Jayli.
Para Gen Z NU tak hanya diajak melestarikan lalaran Alfiyah atau qiroatul kutub, tetapi juga bersentuhan dengan kecerdasan buatan, storytelling visual, dan media sosial. Di tangan mereka, kisah NU diceritakan ulang, lebih segar, lebih dekat, namun tetap berakar.
“Teknologi adalah keniscayaan. Tapi tradisi tetap harus hidup,” kata Prof HM Noor Harisudin, Koordinator Festival GenZINU.
Pada akhirnya, Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana bukan hanya tentang angka 105 ribu jamaah. Ia adalah penanda: bahwa satu abad NU bukan sekadar masa lalu yang dikenang, melainkan perjalanan yang terus dilanjutkan, dengan doa, kerja nyata, dan langkah bersama menuju abad berikutnya.











