Gaya HidupOlahragaSurabaya

94 Kilogram dan Segudang Tekad: Kisah Kahfi Rossi Bangkit dan Terbang

×

94 Kilogram dan Segudang Tekad: Kisah Kahfi Rossi Bangkit dan Terbang

Sebarkan artikel ini
Kahfi Rossi, anak Gununganyar Surabaya berada di Training Camp Minburi City FC Thailand / Foto : Istimewa.

KaMedia – Di sudut kampung Gununganyar, mimpi besar itu tumbuh dari lapangan sederhana dan jalanan yang tak selalu rata. Namanya Kahfi Rossi. Anak kampung yang sejak kecil akrab dengan bola, meski sang ayah, Harun, dulu justru harus sembunyi-sembunyi agar tak dimarahi karena terlalu sering bermain.

“Anak saya senang bola semua. Padahal saya zaman kecil sembunyi tak jauhkan bola.” kenang Harun.

Ada senyum sekaligus haru dalam kalimat itu, seolah mimpi yang dulu tertunda, kini menemukan jalannya lewat sang anak.

Rossi bukan lahir sebagai “wonderkid”. Saat kelas dua SMP, berat badannya sempat menyentuh 94 kilogram. Namun justru di titik itu tekadnya diuji. Ia bilang ingin serius kembali ke sepak bola. Jawaban sang ayah sederhana tapi tajam, harus kuat mental.

Sejak saat itu, Rossi memulai dari nol, belajar juggling berulang-ulang sampai mahir, memperkuat fisik dengan skipping tanpa lelah, menata pola makan, dan membentuk ulang tubuh serta disiplin diri.

Transformasinya bukan instan, tapi penuh keringat dan air mata.Kerja kerasnya membawanya ke seleksi Bajul Ijo U-15 dan merasakan atmosfer kompetitif bersama Persebaya Surabaya. Ia juga sempat lolos dan masuk mess seleksi Diklat Jatim, sebuah pengalaman yang menempa mentalnya.

Namun perjalanan tak selalu mulus. Di sejumlah seleksi lain, ia kerap tersingkir dengan alasan bobot badan, meski secara teknis dan fisik mampu bertahan hingga tahap akhir. Menjadi “pemain terpinggirkan” bukan hal asing baginya. Tapi setiap kali diberi kesempatan bermain, Rossi justru mampu mengubah ritme pertandingan, menghidupkan suasana, dan membalikkan keadaan.

Dari situlah mental baja itu terbentuk. Rossi tak berhenti belajar. Ia menyerap ilmu dari banyak pelatih, termasuk sosok legendaris Fakhri Husaini yang dikenal tegas membangun karakter pemain muda. Ia juga ditempa Setiawan saat mengikuti seleksi Bhayangkara U-15, fase penting dalam pembentukan karakter bermainnya disiplin, berani duel, dan tak mudah menyerah.

Perjalanannya berlanjut melalui berbagai training camp dan klub Persem Kota Mojokerto, Persima Majalengka, Arema U-20, hingga komunitas pemain liga profesional. Ia juga berlatih bersama komunitas wartawan di Judes FC Surabaya, Waras FC Sidoarjo, dan Telstar FC Sidoarjo, bukan sekadar mencari jam terbang, tapi mengasah mental tanding.

Di masa SSB, ia pernah menimba ilmu di Rungkut FC dan Jakarta Football Akademi. Bahkan di futsal amatir Liga Surabaya bersama Unika FC, Rossi tetap menjaga ritme kompetitifnya.

Di luar lapangan, Rossi adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya. Pendidikan baginya adalah fondasi, sepak bola adalah panggilan jiwa. Ia memahami bahwa menjadi atlet bukan hanya soal fisik, tetapi juga ilmu, etika, dan keteladanan.

Kini, di usia yang genap 20 Agustus nanti, Rossi bersiap menantang batas baru, trial bersama Minburi City FC di Liga 3 Thailand.

Dari kampung Gununganyar menuju panggung internasional, ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan lompatan mimpi. Kisah Kahfi Rossi adalah tentang keberanian melawan keraguan, tentang anak kampung yang tak malu memulai dari nol, dan tentang ayah yang menanamkan mental kuat sebagai warisan paling berharga.

Ia mungkin belum menjadi bintang besar hari ini, tetapi nyalinya telah menembus batas. Dan dari Gununganyar, kita belajar, mimpi tak pernah terlalu jauh bagi mereka yang mau berlari mengejarnya.