Gaya HidupHeadlinePemerintahanSurabaya

Surabaya Bergerak: Dari Balai Kota hingga RW, Semua Turun Tangan Jaga Anak di Dunia Digital

×

Surabaya Bergerak: Dari Balai Kota hingga RW, Semua Turun Tangan Jaga Anak di Dunia Digital

Sebarkan artikel ini
Walikota Surabaya Eri Cahyadi / Foto : Diskominfo Surabaya.

KaMedia – Suasana Gedung Convention Hall di Jalan Arief Rahman Hakim, Surabaya, Rabu pagi itu terasa berbeda. Bukan sekadar forum seremonial, tapi ruang pertemuan ide, kegelisahan, sekaligus harapan tentang satu hal: bagaimana menjaga anak-anak tetap aman di tengah derasnya arus digital.

Di bawah komando Pemerintah Kota Surabaya, ribuan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam Sosialisasi dan Gelar Wicara Puspaga 2026 bertema “Membangun Ruang Digital yang Aman untuk Anak.”

Lebih dari 5.000 orang terlibat, mulai kepala sekolah, guru, siswa, hingga komunitas masyarakat. Sebagian hadir langsung, sebagian lain mengikuti secara daring. Namun satu benang merah menyatukan mereka: kekhawatiran yang sama terhadap dunia digital yang kian tak terbendung.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, berbicara lugas. Ia menyoroti realitas yang kini terjadi di banyak rumah, anak-anak yang justru lebih “mahir” teknologi dibanding orang tuanya.

“Kalau orang tua tidak paham aplikasi di HP, sementara anaknya lebih pintar, itu yang berbahaya,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tapi menohok. Di balik layar gawai, ada risiko yang sering luput: konten negatif, cyberbullying, hingga ancaman lain yang tak kasat mata. Langkah Surabaya ini bukan berdiri sendiri. Kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial dari pemerintah pusat, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, justru memperkuat apa yang selama ini telah dirintis Kota Pahlawan.

Namun, Surabaya memilih tidak berhenti pada aturan. Kota ini “tancap gas” dengan pendekatan kolaboratif yang jarang dilakukan daerah lain. Kampus seperti Universitas Negeri Surabaya, aparat dari Polda Jawa Timur, hingga unsur strategis seperti Densus 88 Antiteror Polri dan BNN Kota Surabaya dilibatkan dalam satu gerakan bersama. Bahkan, kolaborasi ini akan ditarik hingga level paling dekat dengan warga: RW.

“Setiap RW akan kami dampingi. Ada NGO, ada kampus. Semua turun langsung,” kata Eri.

Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, menambahkan bahwa tantangan digital kini semakin kompleks, termasuk dengan hadirnya teknologi artificial intelligence.

Ancaman bukan lagi sekadar kecanduan gawai, tapi juga integritas akademik yang tergerus, perundungan daring, hingga paparan konten berbahaya.

“Kesadaran ini yang ingin kita bangun bersama,” ujarnya.

Tak hanya diskusi, kegiatan ini juga diwarnai deklarasi komitmen. Para kepala sekolah dan pelajar sepakat membangun “Sekolah Ramah Digital”, sebuah langkah simbolik sekaligus konkret untuk melindungi generasi muda.

Di atas panggung, akademisi, aparat hukum, psikolog, hingga perwakilan anak-anak sendiri bergantian berbicara. Suara mereka berbeda, tapi pesannya sama: dunia digital tak bisa dihindari, tapi bisa dijinakkan, jika semua bergerak bersama.