OlahragaSurabaya

Domino Naik Kelas: Dari Warung Kopi ke Mal, Kini Bidik Piala Wali Kota Surabaya

×

Domino Naik Kelas: Dari Warung Kopi ke Mal, Kini Bidik Piala Wali Kota Surabaya

Sebarkan artikel ini
Dewan Pembina Orado Surabaya Arif Fathoni ( kaos putih ) bersama Tim Domino Jurnalis Dewan Surabaya / Foto : Judes

KaMedia – Siapa bilang main domino cuma identik dengan bapak-bapak di warung kopi atau pos satpam? Zaman sudah berubah. Di tangan Pengcab Orado Kota Surabaya, domino kini tampil lebih “berkelas”, bahkan sudah berani nongkrong di mal!

Buktinya, Kejuaraan Cabang (Kejurcab) Orado yang digelar di Ciputra World Surabaya sukses menyedot perhatian hingga penutupan pada Minggu malam (29/3/2026). Ajang ini jadi semacam “catwalk”-nya domino, dari yang dulu santai pakai sandal jepit, sekarang naik level jadi olahraga prestasi.

Dewan Pembina Orado Surabaya, Arif Fathoni, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, di bawah komando Rio Gahari, domino berhasil keluar dari stigma lama.

“Dulu identiknya di warung kopi, sekarang sudah masuk mal. Ini namanya naik kelas,” ujarnya, setengah serius setengah bangga.

Namun, perjalanan domino menuju “kelas premium” ini belum sepenuhnya mulus. Stigma sebagai permainan yang dekat dengan judi masih jadi PR besar. Tapi tenang, Orado punya strategi, bukan cuma main kartu, tapi juga main narasi.

Bahkan, Fathoni sempat berkelakar agar para istri tak lagi curiga saat suami “main domino”.

“Mudah-mudahan para istri paham, suaminya ke warung kopi itu bukan keluyuran, tapi latihan jadi atlet nasional,” ujarnya, yang langsung terasa relatable bagi banyak rumah tangga.

Tak berhenti di situ, jargon “Orado Memintarkan Indonesia” juga ikut diangkat. Domino disebut bukan sekadar hiburan, tapi olahraga yang mengasah otak, mulai dari membaca pola hingga menebak strategi lawan. Singkatnya, ini catur versi rakyat.

Menariknya lagi, Fathoni juga mengaitkan domino dengan visi besar bangsa mencerdaskan kehidupan. Bahkan, ia “menyenggol halus” Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, agar memberi dukungan penuh.

Kalau diterjemahkan bebas, q dukung domino, berarti ikut mencerdaskan bangsa. Lumayan berat juga ya, beban di satu set kartu.
Lebih jauh, ia membayangkan masa depan di mana setiap kelurahan di Surabaya punya tim domino andalan. Dengan 153 kelurahan, bayangkan betapa ramainya kompetisi, dan tentu saja, perputaran ekonomi di tingkat lokal.

Meski begitu, ada satu tantangan yang cukup “mengganjal”, harga alat. Satu set meja domino bisa tembus Rp1 juta. Bagi sebagian warga, ini jelas bukan angka receh.

Solusinya? Fathoni berharap BUMN ikut turun tangan, mungkin sambil branding di meja domino, siapa tahu lahir “liga domino bersponsor”.

Sebagai penutup, Fathoni juga melempar ide segar, menggelar “Piala Wali Kota Surabaya” pada Juni mendatang, sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya. Bahkan, ia juga berharap Kejurnas yang rencananya digelar di Bogor bisa “dibajak halus” ke Surabaya.

Alasannya sederhana, Surabaya dinilai lebih siap, dan tentu saja lebih “niat” dalam memajukan domino.

Jadi, kalau nanti Anda melihat orang serius menatap kartu domino di warung kopi, jangan buru-buru menilai. Bisa jadi, mereka sedang latihan. Siapa tahu, calon atlet nasional, atau minimal, juara tingkat RT dulu.