HeadlineSurabaya

Semangat Pahlawan di Pelosok Kampung: Warga Surabaya Gelar Upacara Kemerdekaan Tradisional dan Penuh Hikmat

×

Semangat Pahlawan di Pelosok Kampung: Warga Surabaya Gelar Upacara Kemerdekaan Tradisional dan Penuh Hikmat

Sebarkan artikel ini
H. Budi Leksono atau akrab dipanggil Buleks bersama masyarakat di Kecamatan Bubutan usai menjadi inspektur upacara HUT RI ke 81 / Foto : Istimewa.

KaMedia – Gelora nasionalisme tidak hanya berkobar di lapangan besar, halaman balai kota, atau pusat-pusat perayaan kemerdekaan. Di pelosok kampung Surabaya, semangat itu justru tumbuh begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Dengan sederhana, warga menggelar upacara bendera untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak ada panggung megah atau fasilitas mewah. Hanya lapangan kampung, Sang Saka Merah Putih, dan warga yang datang dengan penuh antusias. Di bawah terik matahari, anak-anak, pemuda, orang tua hingga para sesepuh kampung berdiri bersama mengikuti prosesi upacara dengan penuh khidmat.

H. Budi Leksono, SH, yang akrab disapa Buleks, sekaligus legislator DPRD Kota Surabaya, menilai tradisi upacara kemerdekaan di kampung merupakan gambaran nyata bahwa nasionalisme masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.

“Semangat kemerdekaan itu bukan hanya milik mereka yang mengikuti upacara di lapangan besar. Warga kampung juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan,” ujar Buleks ( 18/7)

Menurutnya, antusiasme warga di berbagai wilayah permukiman, termasuk kawasan bantaran rel kereta api hingga pinggiran kali, menunjukkan kuatnya semangat gotong royong warga Kota Pahlawan.

“Ini menjadi bukti bahwa meskipun dilaksanakan di kampung, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Mereka rela berpanas-panasan, datang bersama keluarga, dan berdiri dengan tertib demi menghormati Merah Putih,” kata Buleks seusai menjadi inspektur upacara di Lapangan Zeni TNI AD Jepara, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Yang membuat upacara kampung terasa istimewa adalah keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Anak-anak sekolah hadir mengenakan seragam mereka. Sebagian bahkan dilatih menghafal kata-kata mutiara para pahlawan sebagai cara sederhana untuk mengenalkan nilai perjuangan, Pancasila, dan cinta tanah air sejak dini.

Para pemuda mengambil peran dalam mengatur jalannya acara dan berbagai perlombaan. Tokoh masyarakat turut menjadi penggerak, sementara warga senior menjadi bagian penting dari suasana kebersamaan.

Buleks mengatakan, keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan semangat nasionalisme.

” Anak-anak harus dikenalkan dengan sejarah dan perjuangan para pahlawan sejak dini. Tidak harus melalui kegiatan yang formal dan kaku. Dengan upacara di kampung, mereka bisa belajar menghormati Merah Putih sekaligus merasakan langsung arti kebersamaan,” tuturnya.

Kehadiran anggota TNI dari satuan setempat, termasuk personel Zeni, turut menambah kesakralan prosesi. Mereka terlibat langsung dalam upacara sebagai komandan sehingga suasana penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan semakin terasa.

Menariknya, semangat kemerdekaan juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM kampung. Seusai upacara, warga dapat menikmati kuliner rakyat seperti soto, sate, hingga es segar. Lapak-lapak sederhana tersebut bukan sekadar pelengkap acara, tetapi ikut menggerakkan ekonomi warga.

” Ini yang saya kira menarik. Kemerdekaan harus bisa dirasakan bersama. Tidak hanya dalam bentuk upacara, tetapi juga melalui kebersamaan, silaturahmi, dan bagaimana kegiatan seperti ini ikut menghidupkan ekonomi warga,” jelas Buleks.

Bagi Buleks, upacara kemerdekaan di tingkat kampung memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar seremoni tahunan.

“Ketika warga berkumpul, berdiri bersama di bawah Merah Putih, kemudian saling menyapa dan bergotong royong, di situlah sebenarnya nasionalisme itu tumbuh. Nasionalisme tidak selalu harus dengan kata-kata besar, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana di lingkungan kita sendiri,” ujarnya

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi. Warga yang sehari-hari sibuk dengan aktivitas masing-masing dapat kembali bertemu, berbincang, dan menikmati suasana kebersamaan. Sekat-sekat sosial maupun antarwilayah pun perlahan mencair.

Buleks berharap tradisi semacam ini terus dipertahankan dan semakin banyak kampung di Surabaya yang menggelarnya.

” Saya berharap semangat seperti ini terus dijaga. Jangan hanya dilakukan ketika peringatan kemerdekaan, tetapi semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.

Dari lapangan-lapangan kecil di pelosok kampung itulah nasionalisme dirawat. Bukan melalui kemewahan, melainkan lewat kebersamaan. Sebab, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari gedung-gedung besar, tetapi juga dari kampung-kampung tempat warganya masih mau berdiri bersama, menghormati Merah Putih, dan menjaga semangat gotong royong.