Gaya HidupJatim

Saat Insan PLN Jadi Guru: Listrik dan Cita-Cita Menyala di SMAN 1 Probolinggo

×

Saat Insan PLN Jadi Guru: Listrik dan Cita-Cita Menyala di SMAN 1 Probolinggo

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Bel sekolah belum lama berbunyi, tapi pagi itu suasana SMAN 1 Probolinggo terasa berbeda. Bukan guru biasa yang berdiri di depan kelas, melainkan insan PLN yang datang membawa cerita tentang listrik, mimpi, dan masa depan.

Lewat program PLN Mengajar, PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) mengajak siswa belajar kelistrikan dengan cara yang lebih dekat dan membumi.

Tak sekadar membahas kabel dan menara transmisi, PLN hadir membawa pesan besar: listrik adalah penggerak mimpi. General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial PLN dalam membangun generasi muda yang cerdas dan sadar keselamatan.

“Listrik bukan hanya soal nyala lampu. Ia adalah fondasi pendidikan, teknologi, dan kemajuan bangsa. Karena itu, penting dipahami dan digunakan secara aman sejak dini,” ujar Ika.

Kegiatan dibuka dengan sesi Motivasi Meraih Mimpi yang dibawakan Manager UPT Probolinggo, Budi Santoso. Dengan gaya santai namun mengena, ia mengajak para siswa berani bercita-cita besar dan terus belajar.

“PLN hadir untuk mendukung mimpi kalian. Tanpa listrik yang andal, pendidikan dan inovasi tidak akan bergerak sejauh ini,” katanya, disambut anggukan para siswa.

Antusiasme juga datang dari pihak sekolah. Kepala SMAN 1 Probolinggo, Drs. Mohamad Zaini, M.Pd., menilai kehadiran praktisi langsung dari dunia industri memberi warna baru dalam proses belajar.

“Anak-anak jadi tahu bahwa apa yang mereka pelajari di kelas ternyata benar-benar dipakai di dunia kerja,” ujarnya.

Bagian paling seru hadir saat tim UPT Probolinggo mengulas perjalanan listrik, dari pembangkit hingga sampai ke rumah. Rumus yang biasanya terasa kaku di buku pelajaran, seperti Hukum Ohm dan Hukum Kirchhoff, tiba-tiba terasa hidup karena dikaitkan langsung dengan pekerjaan sehari-hari di PLN.

“PLN bukan cuma urusan kabel dan tiang. Kami butuh banyak keahlian, dari teknik, IT, akuntansi, sampai lingkungan,” ungkap Adib Dwi Arianto, salah satu pemateri.

Tak lupa, PLN juga menyelipkan pesan keselamatan. Mulai dari larangan bermain layang-layang dekat jaringan listrik, bahaya menumpuk stop kontak, hingga pentingnya menjaga jarak aman bangunan dari SUTT dan SUTET. Pesannya sederhana: listrik sahabat, tapi bisa berbahaya jika disepelekan.

Melalui PLN Mengajar, siswa SMAN 1 Probolinggo tak hanya pulang membawa pengetahuan baru, tapi juga kesadaran bahwa mimpi besar membutuhkan energi—dan listrik adalah salah satunya.