KaMedia – Menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (LPBI PWNU Jatim) bersama Program SIAP SIAGA Jatim—kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia—mendorong para relawan NU untuk beradaptasi dengan teknologi digital.
Sebanyak relawan dari 33 LPBI PCNU se-Jawa Timur mengikuti Pelatihan Pemetaan Bencana dengan Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) yang digelar di Gedung PW LP Ma’arif NU Jatim, Surabaya, pada 13-14 Juni 2026.
Wakil Sekretaris PWNU Jatim, KH Muhammad Qoderi, menegaskan bahwa penguasaan teknologi SIG merupakan bagian penting dari upaya mitigasi bencana. Melalui teknologi ini, potensi bencana dapat dipetakan lebih dini, mulai dari penyebab utama hingga kondisi lingkungan yang berisiko terdampak.
“SIG sangat bermanfaat untuk membaca potensi bencana di tingkat desa maupun kecamatan. Namun, mitigasi bencana juga harus mempertimbangkan faktor sosial dan budaya masyarakat setempat,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas relawan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di daerah masing-masing. Sebab, kecepatan dan ketepatan informasi menjadi faktor krusial dalam penyelamatan korban maupun penyaluran bantuan pascabencana.
Selama ini, salah satu kendala utama dalam penanganan bencana adalah sulitnya mengidentifikasi titik lokasi terdampak secara akurat, terutama di wilayah yang luas atau sulit dijangkau. Akibatnya, proses evakuasi dan distribusi bantuan kerap menghadapi hambatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, SIG hadir sebagai alat analisis spasial yang mampu memetakan risiko, mengidentifikasi area terdampak, hingga mengelola data sebaran korban secara lebih presisi.
“Teknologi ini memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat sehingga penyelamatan jiwa serta distribusi bantuan bisa dilakukan secara akurat,” jelas Qoderi.
Senada dengan itu, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Subroto, menilai penguasaan SIG menjadi kebutuhan mutlak bagi relawan kebencanaan di era digital saat ini.
“Sekarang zamannya ‘Share Loc, Share Life’. Berbagi titik lokasi bisa berarti menyelamatkan nyawa. Karena itu, manfaatkan pelatihan ini sebaik mungkin,” tegasnya.
Menurut Gatot, SIG tidak hanya membantu memetakan wilayah terdampak, tetapi juga menentukan jalur evakuasi dan lokasi aman saat bencana terjadi.
Dalam kesempatan tersebut, Gatot juga mengungkapkan bahwa BPBD Jatim tengah memperkuat program Pemetaan Pesantren Tangguh Bencana (Pestana). Program ini dijalankan berdasarkan Pergub Jatim Nomor 43 Tahun 2023 dan diperkuat melalui Perda Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2025 tentang Penanggulangan Bencana.
Langkah ini dinilai penting mengingat dari sekitar 7.000 pesantren di Jawa Timur, sebanyak 5.000 di antaranya berada di kawasan rawan bencana.
Tak hanya pesantren, BPBD Jatim juga tengah menyiapkan program Masjid Tangguh Bencana setelah mendapat dukungan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI). Program ini bertujuan memperkuat kapasitas takmir masjid dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang berpotensi terjadi di Jawa Timur.
Takmir masjid nantinya diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi kebencanaan, mengarahkan evakuasi jamaah, hingga membantu koordinasi layanan darurat saat situasi kritis.
Sementara itu, Ketua LPBI PWNU Jatim, Mohammad Syaiful Amin, berharap para relawan NU tidak hanya menjadi penolong di lapangan, tetapi juga mampu menghadirkan data kebencanaan yang akurat melalui laporan digital berbasis SIG.
“Relawan dapat memberikan gambaran kondisi lapangan secara detail, mulai dari akses yang sulit dijangkau, kondisi masyarakat, hingga fasilitas umum yang terdampak. Apalagi SIG saat ini sudah terintegrasi dengan InaRISK,” ujarnya.
InaRISK sendiri merupakan portal kajian risiko bencana milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memanfaatkan teknologi SIG untuk menyajikan data dan analisis kebencanaan secara komprehensif.
Pakar Geologi Kebencanaan UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Eko Teguh Paripurno, yang menjadi salah satu narasumber pelatihan, menegaskan bahwa data spasial akan menjadi standar informasi masa depan. Menurutnya, informasi desa tidak lagi bisa disajikan secara perkiraan, tetapi harus berbasis kondisi nyata di lapangan.
“Posisi masjid, jalan desa, rumah warga, hingga lapangan harus tergambar apa adanya. Semua itu memengaruhi kapasitas wilayah, perencanaan pembangunan, dan tingkat risiko bencana,” jelasnya.
Pelatihan ini menghadirkan Prof. Eko Teguh Paripurno bersama Muhammad Fajar Sulistyo, pengembang GIS dan WebGIS dari sinauGIS Yogyakarta. Keduanya membekali para relawan NU dengan keterampilan pemetaan digital yang diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan dan respons bencana di seluruh penjuru Jawa Timur.











