KaMedia – Banjir yang merendam Desa Kendalpecabean dan Kalipecabean, Kecamatan Candi, bukan sekadar akibat hujan. Genangan yang bertahan empat hari tanpa surut ini menjadi potret telanjang proyek rumah pompa Kedungpeluk yang belum selesai, sementara warga dipaksa menanggung dampaknya.
Air hujan yang seharusnya dialirkan justru tertahan. Rumah pompa belum berfungsi, aliran tersendat, dan air meluap ke permukiman. Dua desa kebanjiran, aktivitas lumpuh, dan keluhan warga kian keras.
Warga Perumahan Alam Mutiara, Agus Adrianto menegaskan bahwa akar persoalan jelas rumah pompa belum bekerja. Ia mendesak percepatan pembangunan, mengingat intensitas hujan mulai meningkat dan ancaman banjir semakin besar.
“Kondisi ini karena rumah pompa belum jalan. Air tidak mengalir optimal,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Luluk Ainiyah, Ia menyebut banjir pada Sabtu (20/12) lalu sebagai yang terparah selama 18 tahun terakhir. Air setinggi lutut merendam rumah, menyisakan dampak kesehatan.
“Banjirnya setinggi lutut. Sekarang kaki saya gatal-gatal,” katanya, Senin (22/12).
Situasi di lapangan bahkan memicu ketegangan antarwarga desa. Sekretaris Desa Kedungpeluk, Muhammad Shofi, mengungkapkan protes keras dari dua desa terdampak pada Minggu (21/12) malam. Warga menuntut agar pintu air kali alternatif dibuka.
Namun permintaan itu ditolak karena air laut tengah pasang. Risiko banjir justru mengancam wilayah Kedungpeluk.
“Kalau dibuka malam hari, Kedungpeluk bisa banjir parah,” tegas Shofi.
Situasi sempat memanas hingga terjadi cekcok. Setelah dimediasi, disepakati pintu air baru dibuka keesokan paginya. Solusi darurat ini kembali menegaskan satu hal ketiadaan sistem permanen membuat warga saling berhadapan.
Pj Kepala Desa Kendalpecabean, Wahyu Istanto, mengakui keresahan warga kian memuncak karena banjir tak kunjung surut. Untuk menekan genangan, pintu air kali alternatif dibuka 30 sentimeter dari total 100 sentimeter, dengan perhitungan debit air dan kesepakatan bersama.
Sementara itu, Plt Kepala BPBD Sidoarjo, Sabino Mariano, menyebut penanganan masih bersifat situasional. Pintu air dibuka-tutup setiap satu hingga dua jam, disertai pengoperasian pompa bila genangan meningkat.
“Kalau air naik, pintu air dibuka dan pompa dijalankan. Air harus dipompa agar tidak meluber ke permukiman dan tidak mengalir ke wilayah barat,” jelasnya.
Namun di balik skema buka-tutup dan solusi darurat, satu persoalan utama tetap tak tersentuh, rumah pompa Kedungpeluk belum rampung. Selama proyek ini belum selesai dan berfungsi penuh, banjir bukan lagi soal cuaca, melainkan konsekuensi langsung dari pembangunan yang tak kunjung tuntas, dan warga kembali menjadi korban.











