Gaya HidupJatimSurabaya

Pesantren Bayt Al-Hikmah dan Al Yasmin Bangun Kolaborasi Digital, Santri Disiapkan Hadapi Era Teknologi

×

Pesantren Bayt Al-Hikmah dan Al Yasmin Bangun Kolaborasi Digital, Santri Disiapkan Hadapi Era Teknologi

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Semangat transformasi digital kini mulai mengakar di lingkungan pesantren. Hal itu terlihat dalam kunjungan silaturahim Pesantren Digipreneur Al Yasmin ke Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah pada Senin (11/5).

Kunjungan tersebut bukan sekadar ajang mempererat ukhuwah antarpesantren, tetapi juga membuka peluang kolaborasi pengembangan santri berbasis teknologi dan keterampilan digital.

Pertemuan berlangsung hangat bersama pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah, Nailur Rochman atau yang akrab disapa Gus Amak, didampingi para kepala sekolah dan kepala bidang di lingkungan pesantren.

Dalam diskusi itu, kedua lembaga membahas sejumlah program strategis untuk meningkatkan kompetensi santri di tengah pesatnya perkembangan industri digital. Mulai dari program Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi santri SMK, kelas tamu bersama praktisi digital, outing class, hingga pembinaan humas yayasan dan unit pendidikan pesantren.

Gus Amak mengapresiasi langkah Pesantren Digipreneur Al Yasmin yang dinilai membawa perspektif baru tentang pentingnya profesionalitas santri di era modern.

“Santri hari ini perlu memiliki keterampilan yang dapat menunjang masa depan di tengah berkembangnya industri digital,” ujarnya.

Menurutnya, pesantren tidak cukup hanya memperkuat pendidikan agama, tetapi juga harus mampu membekali santri dengan kemampuan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.

“Yang kami sukai dari Pesantren Digipreneur Al Yasmin adalah tidak hanya memperkuat ilmu agama, tetapi juga membangun karakter, kompetensi, hingga keterampilan profesional santri,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun pemahaman digital yang sehat bagi santri. Bukan hanya mengejar popularitas di media sosial, tetapi memahami proses kreatif dan profesional dalam menghasilkan karya digital.

“Santri tidak hanya diajarkan mengejar viralitas, tetapi juga memahami proses dan sisi profesional dalam menghasilkan produk digital,” jelasnya.

Sementara itu, Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Helmy M. Noor, menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan digital di lingkungan pesantren.

“Kami ingin santri tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kreativitas, inovasi, dan kompetensi yang menjadi nilai tambah ketika terjun di masyarakat maupun dunia kerja,” katanya.

Melalui silaturahim ini, kedua pesantren berharap lahir berbagai program kolaboratif yang mampu mencetak generasi santri unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan identitas dan karakter kepesantrenan.