KaMedia – Suasana sore di kantor Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama di Jakarta terasa berbeda, Sabtu (7/3). Lantunan sholawat dari anak-anak menggema di ruangan, berpadu dengan wajah-wajah penuh harap para ibu yang duduk menyimak. Di tengah suasana khidmat itu, peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus penutupan Pesantren Anak Ramadhan digelar dengan penuh kehangatan.
Di antara para jamaah, hadir Ketua Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Ia datang tidak hanya sebagai pemimpin organisasi perempuan Nahdliyin, tetapi juga sebagai sosok ibu yang menaruh perhatian besar pada pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Bagi Khofifah, momentum Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan turunnya kitab suci, melainkan juga pengingat akan tanggung jawab besar umat Islam untuk menebarkan nilai-nilai kedamaian.
“Semoga semua yang kita lakukan menjadi amal ibadah dan jariyah kita. Muslimat NU hadir di mana-mana, dari pelosok desa hingga berbagai negara,” ujarnya di hadapan para jamaah.
Menurutnya, kekuatan Muslimat NU terletak pada jejaring perempuan yang luas dan mengakar. Dari desa-desa hingga luar negeri, organisasi ini menjadi ruang bagi para ibu untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan, Islam yang membawa kasih sayang dan keberkahan bagi semua.
Khofifah menekankan, perempuan, khususnya para ibu memiliki peran penting dalam membentuk generasi masa depan. Dari rumah, nilai-nilai agama dan akhlak pertama kali ditanamkan kepada anak-anak.
Di tengah era digital yang semakin kompleks, tantangan mendidik anak juga semakin besar. Karena itu, Khofifah menyampaikan dukungannya terhadap kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai upaya penting untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan.
“Mulai 26 Maret anak-anak di bawah 16 tahun dilarang mengakses media sosial. Kita tentu menyampaikan terima kasih kepada Ibu Menkomdigi,” kata Khofifah.
Menurutnya, tidak semua orang tua mampu mengawasi aktivitas digital anak setiap waktu. Karena itu, kebijakan negara dapat menjadi bagian dari perlindungan bersama agar anak-anak tetap tumbuh sehat secara mental dan sosial.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana acara semakin semarak. Anak-anak peserta Pesantren Ramadhan tampil di depan panggung kecil. Dengan percaya diri mereka membacakan sholawat dan menyanyikan lagu-lagu Islami.
Ketua PP Muslimat NU sekaligus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, turut mengapresiasi gagasan Khofifah dalam penyelenggaraan Pesantren Ramadhan untuk anak-anak.
Ia menyebut ide tersebut bahkan mendapat dukungan lintas kementerian hingga tingkat nasional.
“Biasanya pesantren Ramadhan untuk anak-anak itu lokal. Tapi ini adalah ide dari Ibu Khofifah yang kemudian kami dorong di kementerian dan disupport enam kementerian serta Menko PMK,” ujarnya.
Menurut Arifah, gagasan tersebut kini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, menjadi bagian dari gerakan bersama dalam memperkuat pendidikan karakter anak sejak dini.











