KaMedia – Stadion Manahan berubah jadi panggung kepanikan. Di saat nyawa klub dipertaruhkan, Persis Solo justru tampil loyo, kehilangan taring, dan gagal menang di kandang sendiri usai ditahan Persebaya Surabaya 0-0, Sabtu malam WIB.
Hasil ini bukan lagi sekadar kehilangan poin. Ini sinyal keras bahwa Persis Solo sedang menuju kehancuran.
Tim yang dulu digadang-gadang bangkit dengan ambisi besar kini tampak seperti skuad tanpa arah. Serangan mandul, permainan kacau, mental rapuh. Di depan ribuan suporternya sendiri, Persis tampil seperti tim yang sudah menyerah sebelum bertarung.
Bruno Gomes membuka peluang di awal laga, tetapi hanya berakhir sundulan melebar. Setelah itu? Hampir tak ada ancaman serius. Persis sibuk berlari tanpa tujuan, menyerang tanpa ide, dan menembak tanpa akurasi.
Sementara itu, Persebaya datang dengan kepala tegak. Bajul Ijo tak perlu bermain spektakuler untuk membuat Persis terlihat menyedihkan. Milos Raickovic, Malik Risaldi, hingga Francisco Rivera berkali-kali memperlihatkan bagaimana tim yang percaya diri bermain di bawah tekanan.
Masuk babak kedua, kepanikan Persis makin terlihat jelas. Pergantian pemain dilakukan seperti perjudian putus asa. Arkhan Kaka, Andrei Alba, Dimitri Lima dimasukkan, tapi hasilnya nihil. Bola terus mengalir tanpa arah, peluang terbuang percuma, dan publik Manahan dipaksa menyaksikan timnya perlahan tenggelam.
Yang paling menyakitkan, Persis kini bahkan tidak lagi memegang nasibnya sendiri.
Dengan dua laga tersisa, mereka bisa resmi terdegradasi hanya dengan menonton hasil tim lain. Jika Persijap Jepara dan Madura United menang, tamat sudah perjalanan Persis di Super League.
Lebih ironis lagi, Persis kalah head-to-head dari Persijap. Artinya, sekalipun poin bisa disamakan, mereka tetap kalah. Situasi ini membuat peluang bertahan hidup nyaris mustahil.
Manahan yang dulu penuh harapan kini berubah jadi simbol kegagalan besar.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “bisakah Persis bertahan?”, tetapi “siapa yang harus bertanggung jawab atas kekacauan ini?”
Manajemen disorot. Pelatih dipertanyakan. Pemain dianggap kehilangan mental bertarung. Dan suporter? Mereka hanya bisa menyaksikan klub kebanggaannya perlahan jatuh ke jurang degradasi.
Jika tidak ada keajaiban, musim ini akan dikenang bukan sebagai perjuangan, melainkan sebagai musim paling memalukan dalam sejarah Persis Solo modern.











