HeadlineJatimPemerintahan

Peringati 22 Tahun Tagana Mengabdi, Gubernur Khofifah: Sinergi Jadi Kunci Ketangguhan Negeri

×

Peringati 22 Tahun Tagana Mengabdi, Gubernur Khofifah: Sinergi Jadi Kunci Ketangguhan Negeri

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Dua puluh dua tahun bukan sekadar hitungan waktu bagi Taruna Siaga Bencana (Tagana). Lebih dari itu, ia adalah jejak panjang pengabdian, ketulusan, dan kerja kemanusiaan tanpa henti. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa perjalanan panjang tersebut menjadi bukti nyata kuatnya sinergi dalam membangun ketangguhan negeri, khususnya di Jawa Timur.

Hal ini sejalan dengan tema peringatan HUT Tagana tahun ini, “22 Tahun Mengabdi, Satu Sinergi untuk Ketangguhan Negeri”—sebuah refleksi sekaligus penegasan bahwa kekuatan terbesar dalam menghadapi bencana adalah kebersamaan.

Selama lebih dari dua dekade, Tagana telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem mitigasi dan penanganan bencana di Indonesia. Di Jawa Timur yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai potensi bencana, kehadiran Tagana menjadi penopang penting dalam setiap fase, dari kesiapsiagaan hingga pemulihan. Bagi masyarakat terdampak, Tagana bukan hanya relawan. Mereka adalah saudara, penguat, sekaligus harapan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

“Selama 22 tahun, Tagana selalu hadir di garis terdepan. Bukan sekadar relawan, tetapi menjadi bagian dari keluarga bagi masyarakat terdampak bencana,” ujar Khofifah dalam peringatan HUT ke-22 Tagana, Selasa (24/3).

Di lapangan, kiprah Tagana berbicara dengan nyata. Saat bencana datang, mereka bergerak cepat, mendirikan tenda pengungsian, menyiapkan dapur umum, mengevakuasi korban, hingga mendampingi proses pemulihan sosial secara berkelanjutan.

“Di tengah bencana, Tagana sigap. Di saat krisis, Tagana hadir. Dari dapur umum hingga proses evakuasi, mereka menjadi bagian dari harapan yang terus menyala,” tegasnya.

Namun, menurut Khofifah, kekuatan Tagana tidak hanya terletak pada keterampilan teknis. Lebih dalam dari itu, ada nilai keikhlasan dan ketulusan yang menjadi fondasi pengabdian mereka.

“Keikhlasan dan ketulusan dalam melayani masyarakat, terutama korban bencana, adalah kekuatan utama Tagana. Menolong tanpa lelah adalah bentuk pengabdian luar biasa yang patut kita apresiasi,” ungkapnya.

Tema tahun ini, lanjutnya, juga menegaskan bahwa ketangguhan tidak mungkin dibangun sendiri. Diperlukan sinergi lintas sektor yang kuat dan berkelanjutan.

“Ketangguhan negeri lahir dari sinergi. Dari kebersamaan yang saling menguatkan. Dan itu telah dijaga oleh Tagana selama 22 tahun,” imbuhnya.

Peran Tagana juga tidak berhenti saat masa darurat berakhir. Justru pada fase pemulihan, kontribusi mereka menjadi semakin krusial. Mulai dari memastikan ketersediaan dapur umum yang higienis, distribusi logistik yang tepat sasaran, hingga memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP), khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Upaya-upaya ini terbukti membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial masyarakat terdampak.

“Kawan-kawan Tagana bekerja luar biasa. Sejak pra-bencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana, mereka selalu ada dan selalu siap,” puji Khofifah.

Ia menegaskan, dalam setiap peristiwa kebencanaan, Tagana hadir untuk memastikan keselamatan warga sekaligus menekan risiko kerugian material dan korban jiwa.

Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa Tagana tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi seluruh elemen pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga media, menjadi kunci dalam membangun ketangguhan yang sesungguhnya.

“Sinergi semua pihak sangat dibutuhkan untuk membangun kesadaran kolektif. Salah satunya melalui penguatan program Kampung Siaga Bencana,” tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya meningkatkan kesejahteraan dan kapasitas sumber daya manusia Tagana. Penyaluran Tali Asih dan bantuan operasional dipastikan berjalan lancar, termasuk melalui program “Sapa Bansos” yang menjangkau 38 kabupaten/kota.

“Kami ingin menyapa dan mengapresiasi langsung para pilar sosial, termasuk Tagana, baik melalui bantuan maupun kebersamaan,” jelasnya.

Tak hanya itu, dukungan terhadap pelatihan lanjutan, sertifikasi kompetensi, penyediaan asuransi, hingga pembaruan peralatan dan alat pelindung diri juga terus diperkuat demi menjamin keselamatan dan profesionalisme para relawan.

Ke depan, Khofifah berharap semangat kerelawanan Tagana terus tumbuh dan mampu menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan dan mitigasi bencana.

“Mari kita panjatkan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT, agar seluruh personel Tagana senantiasa diberi kesehatan, perlindungan, dan kekuatan dalam menjalankan tugas mulia ini,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Tagana merupakan relawan kemanusiaan berbasis masyarakat di bawah koordinasi Kementerian Sosial yang telah berdiri sejak 2004. Di Jawa Timur, perannya semakin strategis seiring tingginya potensi kerawanan bencana.

Melalui Dinas Sosial, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen terus memperkuat peran Tagana sebagai garda terdepan dalam penanganan kebencanaan dan pelayanan sosial yang responsif.

Dengan semangat 22 tahun pengabdian, Tagana diharapkan semakin profesional, solid, dan adaptif, menjadi simbol hidup dari gotong royong, solidaritas, dan kemanusiaan Indonesia.