HeadlineJatim

Lebaran Di Tanah Yang Hilang: Warga Porong Menjemput Rindu Di Tepi Lumpur

×

Lebaran Di Tanah Yang Hilang: Warga Porong Menjemput Rindu Di Tepi Lumpur

Sebarkan artikel ini
Rasa haru menyelimuti perasaan para korban lumpur yang menunaikan Sholat Ied dilokasi yang dulu adalah kampung halaman mereka, yang. telah tenggelam oleh lumpur Lapindo / Foto : Wawan.

KaMedia – Pagi itu, di depan tanggul lumpur Porong, suasana tak biasa terlihat. Di lahan kosong samping Masjid Nurul Azhar, ratusan orang datang perlahan. Mereka bukan sekadar jemaah Salat Id, mereka adalah kenangan yang kembali pulang.

Sekitar 300 warga korban Semburan Lumpur Lapindo berkumpul, Jumat (20/3/2026), menunaikan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di tanah yang dulu adalah rumah mereka. Tempat mereka dibesarkan, sebelum semuanya tenggelam hampir dua dekade lalu.

Tak ada bangunan megah. Hanya hamparan tanah dan ingatan yang tersisa. Namun justru di situlah kehangatan terasa paling utuh.

Sejak pagi, mereka berdatangan dari berbagai penjuru, dari dalam dan luar Porong, bahkan luar kota. Langkah-langkah itu seperti dituntun oleh rindu yang sama, kembali, meski hanya sejenak.

Salat Id berlangsung khidmat, dipimpin KH Fauzi Mansyur. Di antara takbir yang bergema, terselip haru yang sulit disembunyikan. Ada yang saling menatap lama, ada pula yang berpelukan, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan.

Bagi Muhammad Rubianto, salah satu tokoh warga, momen ini lebih dari sekadar ibadah.

“Ini ajang silaturahmi. Kami datang karena ada ikatan emosional. Dulu, kami tinggal di sini,” ucapnya pelan.

Tradisi ini terus hidup tanpa undangan resmi. Seolah sudah menjadi kesepakatan diam, setiap Lebaran, mereka akan kembali, berkumpul dan mengingat.

Meski kini tersebar di berbagai tempat, mereka tak pernah benar-benar pergi.
Di tengah bekas kampung yang hilang, mereka membangun kembali sesuatu yang tak bisa ditelan lumpur, kebersamaan.

Dan di setiap takbir yang terucap pagi itu, tersimpan harapan sederhana agar silaturahmi ini tetap terjaga, selamanya.