EkonomiHeadlineJatim

Kiamat Energi di Depan Mata, Profesor ITS Sulap Polusi Jadi Solusi lewat “Material Ajaib”

×

Kiamat Energi di Depan Mata, Profesor ITS Sulap Polusi Jadi Solusi lewat “Material Ajaib”

Sebarkan artikel ini
Prof Diah Susanti ST MT PhD saat menjelaskan produk inovasi superkapasitor yang menjadi penelitiannya / Foto : Humas ITS

KaMedia – Krisis energi dan kehancuran lingkungan bukan lagi ancaman masa depan mereka adalah bom waktu yang sedang berdetak. Di saat dunia gagap mencari jalan keluar, Prof. Diah Susanti, S.T., M.T., Ph.D., Guru Besar ke-245 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), memilih jalur radikal: menjinakkan polusi dan mengubahnya menjadi sumber daya baru.

​Melalui orasi ilmiahnya yang bertajuk Rekayasa Material Maju untuk Teknologi Penyimpanan Energi dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan, pakar dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM) ITS ini menegaskan bahwa transisi energi tidak bisa ditunda dengan kompromi.

​Jika mayoritas industri melihat emisi gas rumah kaca sebagai limbah yang harus dibuang, Prof. Diah melihatnya sebagai bahan baku. Menggunakan teknologi fotokatalis berbasis komposit reduced Graphene Oxide dan tembaga oksida (rGO/CuO), ia berhasil membalikkan keadaan.

​“Gas buang \text{CO}_2 yang merusak atmosfer, kini bisa kita paksa beralih rupa menjadi bahan bakar alternatif seperti metanol dan metana,” cetus Diah tanpa ragu.

​Tidak berhenti di udara, formula nanoteknologinya juga menyasar limbah cair industri yang mematikan. Dengan senjata rakitan rGO/ZnO buatan Laboratorium Kimia Material ITS, zat pewarna beracun sekelas Rhodamine-B (RhB) dibuat tidak berkutik. Hasilnya brutal: 99,5 persen polutan cair tersebut hancur lebur hanya dalam waktu lima jam.

​Sektor kendaraan listrik kerap dihantui masalah klasik: baterai yang lambat diisi dan cepat aus. Menjawab tantangan ini, Prof. Diah menciptakan superkapasitor elektrokimia, sebuah peranti hibrida yang mengawinkan kecepatan kapasitor konvensional dengan kapasitas baterai modern.

​Kemampuannya tidak main-main. Alat ini memiliki densitas daya raksasa dengan kapasitas penyimpanan 10.000 kali lipat lebih besar dibanding kapasitor biasa.

​Untuk menciptakan komponen canggih ini secara massal tanpa merusak bumi, Prof. Diah menolak bergantung pada material impor yang mahal. Ia justru “mengais” limbah lokal Nusantara: eceng gondok, tempurung kelapa, hingga kluwak, untuk disintesis menjadi rGO berpori aktif.

​Di masa depan, material dari limbah tumbuhan ini akan menjadi komponen vital kendaraan listrik, berfungsi bak “tandon energi pintar” yang mampu menyerap dan melepaskan daya secepat kilat untuk menjaga stabilitas listrik kendaraan.

​Prof. Diah menegaskan bahwa riset mutakhir ini tidak boleh berakhir tragis sebagai pajangan di rak laboratorium atau sekadar deretan angka di jurnal ilmiah. Targetnya jelas dan agresif: menggaet mitra industri global demi memotong jalur menuju Net Zero Emission 2060.

​Sebagai salah satu ilmuwan perempuan di garda depan, ia juga mengirimkan pesan provokatif bagi generasinya.

​“Selagi ada kesempatan, kaum perempuan tidak boleh pasif. Kita harus berdaya, mendobrak batas, dan memberikan kontribusi riset terbaik untuk menyelamatkan bumi yang sedang sakit ini.” ujarnya.

​Inovasi rekayasa material ini bukan sekadar pemenuhan target Sustainable Development Goals (SDGs) di atas kertas. Ini adalah pernyataan perang dari ITS terhadap krisis iklim—sebuah bukti nyata bahwa sains lokal mampu melahirkan teknologi cerdas yang memaksa dunia untuk berubah demi keberlanjutan bumi.

Tag:
Penulis: Oscar LatumahinaEditor: Ricca Putri