EkonomiHeadlineJatim

Inflasi Naik, Keuangan Jatim Tetap Tangguh: OJK Beberkan Ketahanan Ekonomi Awal 2026

×

Inflasi Naik, Keuangan Jatim Tetap Tangguh: OJK Beberkan Ketahanan Ekonomi Awal 2026

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Kinerja sektor jasa keuangan di Jawa Timur pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan daya tahan kuat di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global. Di saat harga kebutuhan pokok, energi hingga emas melonjak, sektor keuangan justru tetap mampu menjaga stabilitas dan menopang aktivitas ekonomi masyarakat maupun dunia usaha.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di Jawa Timur masih terjaga dengan baik meski menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat sejak awal tahun.

“Kinerja sektor jasa keuangan di Jawa Timur tetap resilien dan terus berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, meskipun dihadapkan pada tekanan inflasi yang meningkat pada awal tahun 2026,” ujar Yunita dalam siaran pers OJK Jatim, Senin (25/5/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, inflasi pada Februari 2026 tercatat mencapai 4,88 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan akhir tahun 2025 yang berada di level 2,93 persen (yoy).

Lonjakan inflasi dipicu kenaikan harga berbagai komoditas strategis, mulai dari bahan pangan seperti cabai dan daging, tarif energi, hingga komoditas nonpangan seperti emas perhiasan yang mengalami kenaikan cukup tajam.

Namun, memasuki Maret 2026 tekanan inflasi mulai menunjukkan tanda pelonggaran. Inflasi Jawa Timur tercatat turun menjadi 3,79 persen (yoy), meski masih berada di atas target inflasi nasional sebesar 2,5 ± 1 persen.

Menurut Yunita, inflasi bulanan pada Maret tetap terjadi akibat meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan. Kenaikan permintaan paling terasa pada sektor makanan, minuman, dan transportasi seiring tingginya mobilitas masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional.

“Tekanan inflasi pada awal tahun 2026 terutama bersumber dari volatile food seperti cabai dan daging, administered prices, serta komoditas berbobot besar seperti emas,” jelasnya.

Meski demikian, OJK menilai sektor jasa keuangan di Jawa Timur masih mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bahwa perbankan dan industri jasa keuangan tetap memiliki kapasitas kuat dalam menjaga perputaran ekonomi daerah di tengah tekanan harga dan dinamika global.

Ketahanan sektor keuangan ini dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga optimisme pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sepanjang 2026, terutama dalam menopang aktivitas pelaku usaha dan daya beli masyarakat di tengah gejolak inflasi.