EkonomiHeadlineJatim

Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim–DKI, Transaksi Tembus Rp5,7 Triliun

×

Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim–DKI, Transaksi Tembus Rp5,7 Triliun

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah disambut Sekda DKI Jakarta Uus Kuswanto dalam rangkaian kegiatan Misi Dagang / Foto : Pemprov Jatim

KaMedia – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali mencatatkan capaian impresif dalam misi dagang antarwilayah. Dipimpin langsung Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Misi Dagang dan Investasi Jatim–DKI Jakarta yang digelar di Jakarta, Senin (2/3), membukukan komitmen transaksi final sebesar Rp5.744.955.800.000.

Nilai tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang penyelenggaraan misi dagang Jatim, baik di tingkat nasional maupun internasional. Angka ini juga melampaui capaian misi dagang Jatim–Jakarta pada 2021 yang tercatat Rp750,44 miliar.

Dari total transaksi, Jatim mencatatkan penjualan ke Jakarta sebesar Rp5,61 triliun, sementara pembelian dari Jakarta sebesar Rp129,6 miliar.

Komoditas yang diperdagangkan didominasi sektor peternakan, perikanan, dan industri pengolahan seperti daging unggas, anak ayam, sapi, telur, susu, gula kristal putih, fillet dori, aneka olahan seafood dan daging, hingga produk tekstil, rokok, batik tulis, dan kayu olahan. Adapun komoditas yang dibeli Jatim dari Jakarta antara lain daging sapi.

“Sampai penutupan pukul 17.00 WIB, komitmen transaksi tembus Rp5,7 triliun. Dari 50 kali misi dagang yang kami lakukan, ini yang tertinggi,” ujar Khofifah.

Menurutnya, sinergi antara dua provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar nasional tersebut diyakini mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi dan memperluas akses pasar. Jakarta dinilai sebagai hub strategis pemasaran, sementara Jatim berperan sebagai motor produksi nasional.

Data perdagangan antarwilayah 2024 menunjukkan total nilai perdagangan Jatim dengan DKI Jakarta mencapai Rp89,21 triliun. Rinciannya, pembelian Jatim dari Jakarta sebesar Rp75,95 triliun dan penjualan ke Jakarta Rp14,16 triliun.

Secara makro, ekonomi Jatim pada 2025 tumbuh 5,33 persen (c-to-c) dan 5,85 persen (y-on-y), lebih tinggi dari rata-rata nasional. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp3.403,17 triliun dengan kontribusi 14,40 persen terhadap PDB nasional dan 25,29 persen terhadap PDRB Pulau Jawa. Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama dengan kontribusi 31,32 persen, diikuti perdagangan 18,55 persen dan pertanian 10,74 persen

Dari sisi eksternal, Jatim juga mencatat surplus neraca perdagangan sebesar Rp167,53 triliun pada 2025, mencerminkan daya saing produk yang kuat di pasar domestik maupun global.

Sejak 2019 hingga 2026, Jatim telah menggelar 49 misi dagang dalam negeri dengan total komitmen Rp30,50 triliun dari 2.153 transaksi yang melibatkan 2.410 pelaku usaha. Sementara misi dagang luar negeri periode 2022–2025 menghasilkan potensi transaksi Rp5,896 triliun.

Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan 10 transaksi terbesar, antara lain kerja sama Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jatim dengan mitra Jakarta senilai Rp2,64 triliun per tahun, GAPERO Jatim dengan AMO Jakarta West Rp1,068 triliun per tahun, serta PT Sinergi Gula Nusantara dengan PT Adikarya Gemilang Rp557 miliar per tahun.

Selain transaksi bisnis, sejumlah organisasi pengusaha turut memperkuat kolaborasi melalui penandatanganan kerja sama, termasuk KADIN, HIPMI, IWAPI, dan GEKRAFS dari kedua provinsi.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto menyambut baik pelaksanaan misi dagang ini. Ia menilai kolaborasi antara Jakarta sebagai pusat konsumsi dan Jatim sebagai sentra produksi akan memperkuat pasar dalam negeri, memperpendek rantai pasok, serta meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Dengan capaian ini, Jatim semakin menegaskan posisinya sebagai penggerak utama produksi nasional sekaligus motor pertumbuhan ekonomi kawasan.