KaMedia – Pagi di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, terasa lebih segar dari biasanya. Di lereng pegunungan dengan udara sejuk, barisan pohon jeruk tampak sarat buah—kuning keemasan, menggantung lebat, siap panen. Di tengah kebun itulah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memulai awal tahun 2026 dengan cara sederhana memetik jeruk langsung dari pohonnya Sabtu (3/1), kunjungan tersebut menjadi lebih dari sekadar agenda libur tahun baru.
Ia menjelma pesan kuat tentang kemandirian pangan, cinta produk lokal, dan harapan agar Indonesia tak terus bergantung pada jeruk impor. Dengan senyum, Khofifah memetik jeruk siam bersama para petani dan warga setempat. Sesekali ia mengamati warna kulit buah yang cerah dan ukurannya yang besar, lalu mencicipinya langsung.
“Dua bulan lalu saya ke sini, sekarang datang lagi, saya benar-benar terkesima. Buahnya lebat, kulitnya agak tebal berwarna oranye, ukurannya besar, dan rasanya manis sekali seperti bercampur madu.” ujar Khofifah.
Bukan tanpa alasan Kecamatan Tutur menjadi salah satu sentra jeruk unggulan. Wilayah ini berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, dengan tanah subur dan suhu yang ideal untuk hortikultura. Kondisi alam itu membuat jeruk siam Tutur tumbuh optimal, baik dari segi rasa, tekstur, maupun kualitas.
Bagi Khofifah, jeruk Tutur adalah potret keberhasilan petani Jawa Timur dalam mengelola kekayaan alamnya. Ia menegaskan bahwa Jawa Timur kini menjadi provinsi dengan produksi jeruk tertinggi di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, produksi jeruk pada triwulan III tahun 2025 mencapai 959.231,31 ton, atau berkontribusi 36,22 persen terhadap produksi nasional.
“Ini potensi besar yang harus kita jaga bersama. Salah satunya dengan meningkatkan konsumsi jeruk lokal dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada jeruk impor.” lanjut Gubernur Khofifah.
Menurutnya, memilih jeruk lokal bukan sekadar soal rasa, tetapi juga soal keberpihakan. Setiap jeruk yang dibeli masyarakat berarti ada roda ekonomi petani yang terus bergerak.
“Kualitas jeruk siam Tutur ini tidak kalah dengan jeruk impor baik rasa, kesegaran, maupun gizinya,” ujarnya.
“Kalau kita konsumsi jeruk lokal, kita bukan hanya mendapatkan produk sehat, tapi juga ikut menguatkan ekonomi petani kita sendiri.” tambahnya.
Di sela kegiatan petik jeruk, Khofifah juga berdialog dengan para petani. Ia mendengarkan cerita tentang tantangan produksi, distribusi, hingga harapan agar jeruk lokal memiliki nilai tambah lebih besar di pasar.
Bagi para petani, kehadiran gubernur di kebun mereka menjadi suntikan semangat tersendiri. Kunjungan itu dianggap sebagai bentuk kehadiran negara yang nyata, bukan sekadar kebijakan di atas kertas.
“Kami akan terus mendampingi petani jeruk siam, mulai dari peningkatan kualitas produksi hingga penguatan akses pasar,” tegas Khofifah.
“Ini bagian dari ikhtiar agar jeruk Jawa Timur semakin berdaya saing.” lanjut Gubenur Khofifah.
Sebelum meninggalkan kebun, Khofifah kembali mengajak masyarakat untuk singgah ke Pasuruan dan mencicipi langsung jeruk siam Tutur.
“Kalau berkunjung ke Pasuruan, wajib coba jeruk di sini. Alamnya mendukung, buahnya subur, dan petaninya luar biasa.” pungkasnya.











