KaMedia – Stadion Jatidiri berubah menjadi ladang pembantaian. Deltras Sidoarjo tampil kejam, dingin, dan tanpa belas kasihan saat melumat tuan rumah PSIS Semarang 3-0 dalam lanjutan Championship Pegadaian, Sabtu malam.
Sejak menit awal, Deltras tidak datang untuk bertahan. Mereka datang untuk menghancurkan. Gol pembuka Neville Tengeg di menit ke-10 bukan sekadar gol, itu adalah peringatan keras. Tendangan indahnya merobek gawang PSIS dan langsung mematahkan mental Mahesa Jenar. Setelah itu, pertandingan hanya berjalan satu arah. Deltras, julukan The Lobster menggigit, mencengkeram, dan menekan tanpa henti.
PSIS tak diberi ruang bernapas. Ribuan pendukung Panser Biru yang memadati stadion hanya bisa terdiam melihat tim kebanggaannya dipermalukan di kandang sendiri. Masuk babak kedua, situasi tak berubah. PSIS yang membawa “kekuatan baru” di putaran kedua justru tampak rapuh.
Setiap serangan Deltras terasa seperti ancaman kematian. Pertahanan PSIS compang-camping, lini tengah hilang kendali.
Puncaknya terjadi di menit ke-84. Neville Tengeg kembali menghantam. Shooting keras memanfaatkan umpan silang menghujam gawang Mario Londok tanpa ampun. 2-0. Jatidiri senyap.
Belum cukup. Deltras belum selesai.
Di menit 90+8, saat PSIS berharap peluit panjang segera menyelamatkan mereka, Rava Kaka menancapkan pisau terakhir. Gol penutup. 3-0. Eksekusi tanpa perlawanan.
PSIS benar-benar runtuh. Pelatih Deltras, Widodo C. Putro, mengakui kekuatan lawan, namun menegaskan kemenangan ini adalah buah dari fokus dan disiplin timnya.
“PSIS tim kuat, tapi kami datang dengan fokus penuh. Anak-anak menjalankan instruksi dengan sempurna,” tegas Widodo singkat.
Kemenangan tandang ini bukan sekadar tiga poin. Ini adalah pernyataan kekuasaan.
Deltras Sidoarjo tidak sedang ikut kompetisi, mereka sedang memburu korban.











