EkonomiJatim

Dari Sampah Dapur Menjadi Produk Bernilai Jual, Program LARAS PLN Buka Peluang Ekonomi Hijau

×

Dari Sampah Dapur Menjadi Produk Bernilai Jual, Program LARAS PLN Buka Peluang Ekonomi Hijau

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Di tengah meningkatnya biaya hidup dan persoalan sampah rumah tangga yang terus membesar, limbah organik mulai dipandang sebagai sumber ekonomi baru. Bukan lagi sekadar sisa dapur yang berakhir di tempat pembuangan, limbah kini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Peluang tersebut menjadi fokus Program LARAS (Limbah Rumah Tangga Sehat) yang diluncurkan PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM). Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN mendorong lahirnya ekonomi sirkular berbasis masyarakat dengan mengubah limbah rumah tangga menjadi berbagai produk komersial.

General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, mengatakan bahwa pendekatan yang dibangun dalam Program LARAS bukan sekadar mengurangi volume sampah, melainkan menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

” Melalui Program LARAS, PLN ingin menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Kami percaya bahwa limbah rumah tangga bukan sekadar sampah, tetapi dapat menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya masyarakat yang lebih mandiri, produktif, sekaligus peduli terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Berbeda dengan program pengelolaan sampah pada umumnya, LARAS dirancang hingga menyentuh rantai bisnis secara utuh. Mulai dari riset produk, proses produksi, hingga strategi pemasaran dipersiapkan agar kelompok masyarakat mampu membangun usaha yang berkelanjutan.

Pada tahap awal, sebanyak 50 warga binaan mendapatkan pelatihan mengolah limbah organik menjadi eco enzyme dan kompos. Hasil olahan tersebut kemudian dikembangkan menjadi tiga produk unggulan, yakni sabun eco enzyme, katalis kompos, dan Suplemen Organik Cair (SOC) yang memiliki potensi pasar di sektor rumah tangga maupun pertanian.

Pengembangan produk dilakukan melalui riset formula dan uji coba bersama Yayasan Bina Bhakti Lingkungan Kota Surabaya sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dan siap dipasarkan.

Tak berhenti pada pelatihan, PLN juga memperkuat kapasitas produksi melalui penyediaan berbagai peralatan berbasis listrik. Penggunaan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas produk, sekaligus menekan biaya operasional pelaku usaha.

Aspek hilir juga menjadi perhatian. PLN memfasilitasi legalitas usaha, pengurusan izin Produk Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), hingga penyusunan strategi pemasaran agar produk hasil olahan limbah mampu menembus pasar yang lebih luas.

Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah penyediaan sepeda motor listrik lengkap dengan boks fiberglass sebagai sarana pemasaran keliling sekaligus layanan isi ulang (refill) produk ramah lingkungan. Model distribusi ini dinilai mampu memperluas jangkauan pasar sekaligus mengurangi biaya logistik dan emisi karbon.

Ketua Yayasan Bina Bhakti Lingkungan Kota Surabaya, Muh. Amirur Rosyidin, menilai dukungan PLN tidak hanya berupa bantuan peralatan, tetapi juga menciptakan fondasi usaha melalui pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Program ini diharapkan menjadi contoh bagaimana ekonomi sirkular dapat berjalan di tingkat komunitas. Dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah, masyarakat tidak hanya membantu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memperoleh sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.

Di tengah tren ekonomi hijau yang semakin berkembang, model seperti LARAS menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi identik dengan aktivitas sosial semata. Ketika didukung inovasi, teknologi, dan akses pasar, limbah rumah tangga dapat menjadi komoditas ekonomi yang membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.