HeadlineJatimSurabaya

Dari Mimbar Subuh Masjid Al-Akbar: Pesan Menag tentang Martabat Iman dan Bahaya Potongan Ceramah

×

Dari Mimbar Subuh Masjid Al-Akbar: Pesan Menag tentang Martabat Iman dan Bahaya Potongan Ceramah

Sebarkan artikel ini
Menteri Agama, Nasaruddin Umar. dihadapan sekitar seribu jamaah Masjid Al Akbar Surabaya menyampaikan pesan pesan penting di bulan Ramadhan / Foto : Humas Al Akbar

KaMedia – Pagi itu, udara di halaman Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya masih terasa sejuk. Ribuan jamaah perlahan memenuhi ruang utama masjid terbesar di Surabaya. Mereka datang sejak sebelum fajar, menunggu ceramah subuh yang disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

Di hadapan sekitar seribu jamaah, sang menteri tidak hanya berbicara tentang ibadah Ramadhan. Ia juga membuka ceramahnya dengan pesan yang reflektif: jangan mudah menilai seseorang hanya dari potongan ceramah.

Pernyataan itu merujuk pada polemik yang sempat ramai setelah ceramahnya di Jakarta tentang zakat 2,5 persen dipotong dan disebarkan tanpa konteks. Menurutnya, potongan pernyataan seringkali membuat pesan keagamaan kehilangan makna utuh.

“Jangan salahkan orang dari potongan ceramah. Bisa jadi kita belum sampai pada maksud sebenarnya,” ujarnya tenang.

Untuk menggambarkan betapa berbahayanya penilaian sepihak, ia mengisahkan sosok sufi legendaris Al-Hallaj yang hidup pada abad ke-9. Al-Hallaj pernah dihukum mati karena dianggap sesat, namun dalam sejarah tasawuf kisahnya justru dipandang sebagai simbol ketulusan spiritual.

Namun ceramah subuh itu tidak berhenti pada klarifikasi. Di hadapan pengurus masjid yang dipimpin Kepala BPP MAS Sudjak, Menag mengajak jamaah melihat Ramadhan sebagai momentum menaikkan “martabat beragama”.

Ia menjelaskan, kehidupan manusia selalu bergerak antara dua martabat: turun dan naik. Manusia, katanya, berasal dari langit, lalu hidup di bumi dan kelak kembali kepada Tuhan. Karena itu, agama tidak sekadar mengajarkan kewajiban, tetapi juga peningkatan kualitas iman.

“Al-Qur’an mengatakan ‘wahai orang beriman, berimanlah’. Artinya bukan karena kita tidak beriman, tetapi agar kita terus meningkatkan keimanan,” jelasnya.

Menurutnya, banyak umat masih berada pada tahap “ahli taat”orang yang beribadah karena kewajiban. Mereka berpuasa karena aturan, shalat di akhir waktu, atau menjalankan ibadah sekadar formalitas.
Berbeda dengan “ahli ibadah” atau ahlul-Lah. Pada tingkat ini, seseorang beribadah bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta kepada Tuhan.

“Kalau puasa hanya dipahami sebagai kewajiban, kita akan merasa terbebani. Tapi kalau karena cinta, ibadah menjadi ringan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan membersihkan lahir dan batin. Mulut tidak lagi menggunjing, telinga tidak sibuk mendengar aib orang lain, dan mata tidak melihat sesuatu secara kotor. Bahkan wudhu pun, menurutnya, bukan sekadar membasuh anggota tubuh, tetapi juga membersihkan pikiran.

“Wudhu itu bukan hanya air menyentuh kulit. Ia juga mengingatkan kita agar pikiran, tangan, dan langkah kita bersih dari kebohongan, ghibah, dan keburukan,” ujarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengajak umat belajar membalas keburukan dengan kebaikan.

“Kalau air susu dibalas air susu, itu biasa. Tapi kalau air tuba dibalas air susu, itu baru luar biasa,” katanya, disambut anggukan jamaah.

Di awal ceramah, Menag juga mengajak jamaah mengirim doa kepada Try Sutrisno, tokoh yang dikenal sebagai salah satu penggagas berdirinya Masjid Al-Akbar dan wafat pada 2 Maret 2026.

Doa itu menjadi pengingat bahwa masjid tidak hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pengabdian sosial. Menag pun mendorong Masjid Al-Akbar menjadi contoh dalam mengoptimalkan dana sosial keagamaan—zakat, infak, sedekah, dan wakaf.untuk memberdayakan umat.

Ia mencontohkan bagaimana negara seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mampu mengelola dana sosial keagamaan dalam jumlah besar untuk pembangunan ekonomi masyarakat. Ceramah subuh itu pun ditutup dengan aksi nyata. Menteri Agama menyerahkan bantuan sosial keagamaan senilai Rp100 juta kepada pengelola masjid.

Di tengah suasana Ramadhan, pesan yang tersisa dari mimbar subuh itu sederhana namun dalam: agama bukan sekadar kewajiban yang dijalankan, tetapi jalan untuk terus menaikkan martabat iman dari taat karena aturan, menuju taat karena cinta.