EkonomiGaya HidupHeadlineJatim

Dari Gardu Induk Ke Pekarangan Warga: Cerita Pupuk Kompos PLN Dan Harapan Kecil Di Segoromadu

×

Dari Gardu Induk Ke Pekarangan Warga: Cerita Pupuk Kompos PLN Dan Harapan Kecil Di Segoromadu

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional biasanya identik dengan helm proyek, rompi reflektif, dan prosedur keselamatan di tempat kerja. Namun bagi PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM), peringatan K3 tahun ini dimaknai lebih luas, menyentuh lingkungan dan kehidupan warga sekitar.

Di Kelurahan Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, kepedulian itu hadir dalam bentuk sederhana namun bermakna, pupuk kompos.

Bukan sekadar bantuan, melainkan hasil olahan limbah organik yang dikerjakan dengan penuh kesadaran oleh para pegawai PLN sendiri.
Sebanyak 122 paket pupuk kompos, masing-masing seberat dua kilogram, dibagikan kepada warga. Totalnya mencapai 244 kilogram, siap dicampurkan dengan tanah, menjadi media tumbuh bagi bibit Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang akan menghijaukan pekarangan dan sudut-sudut lingkungan RT.

Yang membuat kegiatan ini istimewa, pupuk kompos tersebut berasal dari Rumah Pupuk Kompos Terpadu di Gardu Induk Tandes, sebuah inovasi lingkungan yang lahir dari inisiatif pegawai, bukan sekadar program di atas kertas. Rumah kompos ini bahkan telah menarik perhatian berbagai pihak dan diresmikan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, pada Desember 2025 lalu.

Dari sisa-sisa organik yang sebelumnya dianggap tak bernilai, kini lahir harapan baru. Pupuk kompos itu akan digunakan untuk menanam jahe, kunyit, serai, dan beragam tanaman obat lain, bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi sumber kesehatan alami bagi keluarga.

General Manajer PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, menyebut kegiatan ini sebagai wujud budaya K3 yang dimaknai secara utuh, melindungi manusia, alam, dan keberlanjutan hidup.

“K3 bukan hanya soal keselamatan bekerja, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Pupuk kompos ini adalah hasil pengolahan limbah yang kami kelola secara berkelanjutan. Harapannya, bisa mendukung kesehatan masyarakat dan mempererat hubungan PLN dengan warga,” ujarnya.

Di tingkat kelurahan, bantuan ini disambut hangat. Lurah Segoromadu, Eko Wahyudi, menyebut pupuk kompos dari PLN sebagai dorongan penting bagi program unggulan Kecamatan Kebomas yang mendorong setiap RT memiliki kebun TOGA.

“Dengan adanya pupuk kompos ini, kami optimistis kebun TOGA bisa tumbuh di setiap RT. Manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kesehatan warga,” kata Eko.

Dari gardu induk yang menopang aliran listrik hingga pekarangan kecil di tengah permukiman, cerita ini menunjukkan satu hal: keselamatan, kesehatan, dan lingkungan saling terhubung. Di tangan yang peduli, limbah bisa berubah menjadi kehidupan, dan kepedulian bisa tumbuh menjadi kebiasaan.

Melalui langkah kecil namun konsisten ini, PLN UIT JBM tak hanya menjaga aliran listrik tetap andal, tetapi juga ikut menyalakan harapan, bahwa keberlanjutan dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.